Merayakan 2nd Anniversary IJ; Menjejak Naik, Menyelam Dasar.



Sudah 2 tahuuuuun!

Untuk saya yang ada sejak Instravelmate Jambi pertama kali terbentuk, melihat dari jauh selebrasi anniversary tahun ke-dua ini rasanya terharu. Sudah sejauh ini, sudah sebesar ini. Yang dulunya hanya tempat ngobrol dan berbagi cerita soal traveling via whatsapp group, sekarang sudah jadi salah satu komunitas terbaik yang mampu meng-influence komunitas lain. Yang dulunya sering berdebat untuk hal-hal kecil, sekarang sudah saling rangkul untuk berbuat sesuatu yang besar. Bangga sekali.

Ketika pertama kali ditanyai ide untuk tema anniversary kali ini, saya tersenyum. Terbesit harapan personal saya untuk komunitas ini; lebih dikenal, namun tetap pada prinsip awal terbentuk. Melaju naik, dengan hati yang tetap rendah. Melangkah lebih jauh, dari puncak gunung hingga ke dasar lautan. Dengan filosofi itu, akhirnya terangkai “Menjejak Naik, Menyelam Dasar”. Dan sungguh terharu ketika melihat harapan itu terpampang besar di backdrop anniversary; dibaca semua orang dan berharap menyebutnya berulang-ulang akan membuat semesta berkonspirasi mewujudkannya.


Preparasi acara.
Selebrasi Anniversary IJ kali ini diadakan dengan konsep outdoor glamcamp; tenda warna-warni, rangkaian bunting-flag, tumblr lamp, semuanya sempurna membuat suasana meriah. Sesorean duduk bersama di atas rumput dilapisi tikar, dengan langit biru cerah di atas kepala, menyambut tamu-tamu komunitas lain yang diundang untuk ikut merasakan gairah anniversary kali ini. Rangkaian acara selebrasi satu persatu dilaksanakan dengan begitu hangat dan akrab; menyenangkan. Membuat saya kembali terharu; cerita-cerita tentang terbentuknya komunitas, potret-potret kebersamaan saat trip yang dipajang dan diputar di layar, member-member yang bertumbuh. Menyenangkan sekali melihat nyata bagaimana IJ berkembang, berdiri tegak membanggakan; dikenal karena solidaritas yang baik dan kekompakan antar member. 70 orang sudah yang resmi menjadi anggota; diselingi dengan beberapa orang yang pergi dan diganti dengan lebih banyak yang datang kembali. Dan saya tahu persis rasanya menjadi salah satu bagian dari mereka; menjadikan IJ rumah, tempat untuk pulang ketika sudah lelah pergi. Nyaman dan hangat.

How I love the vibes!
Sharing bersama komunitas traveling lain.
Kami saling melempar senyum saat mendengar komentar-komentar positif dari komunitas lain; tentang bagaimana IJ menjadi komunitas yang dipandang baik, menjadi role model. Bahagia sekali rasanya. Bukan mudah mencapai semua ini; bukan tidak pernah ada konflik antar member. Beberapa yang tidak sejalan pergi; membuat kami yang tinggal merapatkan hati, membangun IJ lebih kuat lagi dari dalam. Di dalam, kami berbagi; kebersamaan, suka-cita, duka. Makin tumbuh, kami makin kenal bagaimana caranya saling meredam ego; mendengar tanpa harus selalu ingin didengar. Hingga sampai di titik tahun ke-dua ini, kami melangkah bersama tanpa beban. Member yang makin solid, susunan pengurus yang tulus bekerja menggerakkan komunitas ke arah yang lebih baik.

Sharing season
Ngobrol bareng 1st founder IJ
Acara selebrasi juga menghadirkan narasumber dari Gita Buana Club (GBC); yang mengisi acara sharing season mengenai seluk beluk traveling. Mendengarkan cerita bagaimana GBC terbentuk dan menjaga solidaritas mereka, membuat kami juga ikut kembali belajar. Juga ada sharing season dari 1st founder IJ: Bhima Wibawa, yang juga dikenal sebagai seorang travel influencer nasional. Bhima banyak berbagi soal pengalaman-pengalaman travelingnya yang inspiratif, membuat kami bangga. Semakin sore, suasana anniversary semakin menyenangkan. Bergelas-gelas es buah, jajanan pasar, menyelingi obrolan-obrolan hangat, baik sesama member maupun tamu yang makin ramai. Hingga akhirnya sampai di acara potong kue dan potong tumpeng, saya makin terharu. Memejamkan mata, berdoa dalam hati semoga akan ada perayaan yang ke-tiga, keempat, dan seterusnya.

Pengurus IJ Periode 2018; salute!
Setelah acara seremonial selesai dan tamu-tamu pulang, kami meneruskan rangkaian selebrasi yang makin malam makin penuh tawa. Kami melakukan semuanya bersama-sama, melancarkan ‘operasi-semut’ untuk membersihkan sampah-sampah bekas acara seremonial dengan trashbag di tangan. Yang laki-laki, bersama mencari kayu bakar untuk acara api unggun. Yang perempuan saling bekerjasama menyiapkan daun pisang untuk tempat liwetan bersama malam hari. Pada anniversary kali ini, kami mendapatkan suasana terbaik; penuh canda-tawa, harmonisasi kebersamaan. Salah satu highlight terbaik IJ tahun ini.

Sebagian besar dari keluarga Instravelmate Jambi
But first, let us take a we-fieeee~ (..ada aja yang nyelip yaa dibelakang.)
Disuruh masang tumblr lamp, gini ujungnya. Wa-ni-ta. Haha.
Setelah liwetan bersama, tawa makin banyak terdengar. Kebahagiaan itu rasanya menular kemana-mana. Kami menonton dokumenter foto acara, sambil membakar jagung. Setelah itu bermain beberapa games menyenangkan yang membuat rahang saya rasanya kebas karena terlalu banyak tertawa. Jarang sekali selepas ini. Setelah lelah bermain games, kami berbaring di depan tenda; masih di atas rumput berlapis tikar, dinaungi bentangan langit malam yang pekat. Tumblr lamp berkelap-kelip di atas kepala; membuat hati terasa semakin baik. Untuk menghabiskan malam, kami menonton film horor bersama. Sesekali terdengar pekik takut, lalu tertawa-tawa lagi. Diselingi dengan celetukan-celetukan hangat hingga semua akhirnya menyerah tidur.

Suasana liwetan bareng; blurry, but warm.
Tim bakar jagung!
Hari itu saya bahagia; saya yakin semua member IJ merasakan hal serupa. Merayakan kebersamaan memang seperti inilah seharusnya. Kami tidak datang dari orang-orang yang satu pemikiran; semua punya ego dan pendapat masing-masing. Hebatnya, semua bisa melebur. Semua saling rangkul untuk menjadikan IJ benar layaknya rumah; tempat banyak hati bernaung untuk melepas ide, semangat, juga pikiran-pikiran terbaiknya.

Happy 2nd Anniversary, Instravelmate Jambi. Semoga jejakmu, jejak-jejak kita; terus melaju jauh, naik. Semoga hatimu, hati kita semua; tetap pada dasarnya.


-Lanny

Kita dalam Etika Traveling


va·ndal·is·me (n) 1 perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb); 2 perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas. (KBBI)
Kemarin, saya membaca ribut-ribut di media sosial soal vandalisme di Gunung Kerinci. Jadi, ada seorang pendaki laki-laki yang mencoret batu cadas di sekitar daerah Batu Gantung dengan cat semprot bertuliskan dua nama; yang diyakini namanya sendiri dan pasangannya. Saya tersenyum kecut saat membaca beritanya, ini entah sudah kasus keberapa kali yang saya dengar. Dulu, ketika mendengar atau melihat ada yang melakukan vandalism di tempat-tempat wisata, saya rasanya ingin marah sekali. Too stupid to be real. Merusak view, juga mengotori objek yang nantinya masih akan didatangi orang lain. Apalagi kalau dilakukan di alam bebas seperti di gunung;  merusak tanpa tahu entah siapa nanti yang akan memperbaikinya. Kadang, saya bertanya dalam hati; apakah esensi traveling masa kini benar-benar sudah bergeser jauh? Apakah traveling yang mengedepankan asas cekrek-cekrek-upload membuat para pejalan sudah tidak lagi tahu cara menikmati perjalanannya dengan baik?

Nowadays, di era digital seperti sekarang, traveling bukan lagi hal yang sulit dilakukan. Merebaknya virus traveling dan bermunculannya banyak travel influencer di media sosial membuat siapa saja, dari kalangan mana saja, dari berbagai usia ingin melakukannya. Entah itu jauh atau dekat, di alam atau di kota. Sampai hari ini, apapun tujuannya; entah memang ingin me-refresh diri secara personal atau hanya untuk eksis di media sosial, traveling jelas sudah menjadi tren yang mewabah. Sisi baiknya, nadi pariwisata di sudut-sudut daerah di seluruh Indonesia mulai menunjukkan pesonanya masing-masing. Banyak spot-spot wisata tersembunyi yang akhirnya terekspos ke publik dan ramai pengunjung. Pariwisata Indonesia melaju naik membanggakan, dengan bantuan sempurna media sosial yang makin hari makin digilai penggunanya. Sisi buruknya? Demi eksistensi dan prestige dunia maya, kita sudah mulai kehilangan etika dalam perjalanan.

Vandalisme di gunung mungkin bukan lagi berita baru. Banyak sekali rasanya kasus ulah pendaki dadakan yang saya dengar viral di media sosial, ada juga banyak yang saya saksikan sendiri. Corat-coret papan petunjuk jalur, papan informasi pengunjung, batu-batuan, bahkan pepohonan. Kadang rasanya unbelievable. Bagaimana bisa seseorang memutuskan untuk mendaki gunung jika ia bahkan tidak bisa mencintai alam yang menaunginya? Bagi saya pribadi, pendakian adalah proses mengenali diri sendiri lewat alam. It’s about how to blend with nature. Esensi mendaki adalah menyapa lebih dekat ciptaan Sang Pencipta, menunjukkan kecintaan pada sesama makhluk Tuhan. Belum lagi masalah petik-memetik bunga Edelweiss yang dari dulu hingga sekarang menjadi perdebatan banyak kalangan. Banyak opini tentang boleh tidak bolehnya Edelweiss dipetik; mulai dari alasan dipetik untuk dijual oleh penduduk lokal sebagai sumber penghasilan, hingga dipetik karena pendaki merasa tidak ada sanksi hukum apa-apa memetik sejumput kecil bunga. Dear, sungguh ini bukan hanya perkara boleh tidak boleh. Abaikan UU No. 5 Tahun 1990 tentang larangan merusak tumbuhan yang dilindungi, mari bicara tentang hubungan kita dengan alam. Naluri pribadi yang harusnya kita punya; komunikasi tanpa bicara dengan semesta. Pahami tentang betapa sayangnya kita pada ‘mereka’. Nanti, ketika sudah tahu rasanya, jangankan memetik, memegang erat saja pasti akan ragu.

Nemuin bentuk vandalism di papan petunjuk jalur summit di Gunung Merbabu via Selo; muke bete.
Bukan cuma bicara vandalisme yang merusak tempat-tempat yang didatangi, traveler sekarang juga sudah tidak lagi peduli pada kearifan lokal. Ramah tamah pada penduduk lokal setempat yang dikunjungi, menjaga adat-istiadat yang mereka anut, menghormati agama dan kepercayaan yang mereka yakini, kadang seringkali diabaikan. Saya pernah mendengar tentang kasus traveler yang nekat masuk ke kawasan wisata yang merupakan rumah ibadah dengan pakaian minim, belum lagi kasus membludaknya pengunjung di salah satu kawasan wisata yang disucikan yang mengganggu khidmatnya hari raya umat tertentu. Kadang masalah seperti ini membuat saya kembali bertanya dalam hati; sopan santun seperti apa yang kita punya dan diajarkan di sekolah dulu hingga sebegini susahnya menghormati orang lain?

Menghormati rumah ibadah; berpakaian tertutup dan bersedia melepas alas kaki di kuil Pagoda Lumbini, Berastagi, Sumatera Utara.

Potret menyenangkan wujud saling menghormati antar umat beragama di tempat wisata. Bukankah indah? :)
Setelah vandalisme, kurangnya etika sosial, lalu apa lagi? Kelakuan traveler yang paling sering disoroti adalah masalah sampahnya. You guys know very well what I mean. Bicara tumpukan sampah di gunung, di sepanjang pesisir pantai, di danau, di tempat-tempat wisata buatan, air terjun, sudah semacam wacana yang tidak ada ujungnya. Miris. Logikanya, lebih baik kita buang sampah sembarangan di jalan raya dan di tempat-tempat publik lainnya; jelas akan ada yang membersihkan walaupun kita tahu itupun tidak boleh dilakukan. Pernahkah selintas terpikir akan pergi kemana sampah-sampah yang kita buang sembarangan di alam? Sedih kalau nanti pada akhirnya sampah akibat ulah kita menumpuk di sepanjang jalur di gunung yang kita sukai, mencemari biota di laut tempat kita pernah snorkeling dengan senangnya, atau mengendap di dasar danau yang indah.

Sampah yang bertebaran di sekitar camp-area Plawangan Sembalun, Gunung Rinjani. The worst part about this, kadang kalo sore bisa ngeliat atraksi sampah terbang dibawa angin gunung di atas view Danau Segara Anak. Sad.
Saya pikir, tanpa kita sadari, banyak sekali sebenarnya hal-hal berharga dalam perjalanan yang bisa kita dapat kalau saja kita mau sedikit aware pada lingkungan yang kita datangi. Datanglah dengan mental pejalan yang baik; dengan tujuan baik pula. Jangan tinggalkan hal-hal buruk apapun di gunung, atau di tempat manapun. Jangan merusak, jangan mengambil apapun. Percayalah, alam akan balas memberi kita megahnya pemandangan yang tidak terukur nilainya. Hormati kearifan lokal; ajak penduduk lokal berkomunikasi hangat, saling berbagi senyum dan cerita. Temukan budaya baru yang bisa menambah wawasan, hargai perbedaan suku dan agama untuk memperkaya ilmu. Yakinlah, ketika pulang dari perjalanan; kita bukan cuma akan punya  memori kamera yang penuh dengan foto dan video, tapi juga cerita perjalanan yang tidak terlupakan di dalam kepala. Yuk sadari untuk bijak dalam berjalan. Mulailah dari diri sendiri, lalu ingatkan rekan-rekan seperjalanan kita. It will change many things around us, seriously.

Blend with locals; berbagi cerita soal kultur budaya upacara keagamaan di Pura Tirta Empul, Tampak Siring, Bali. Priceless part of traveling.
Saya jadi ingat salah satu kutipan yang dishare travel blogger favorit saya; “If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay home.” -James Michener. Jadi kalau kita masih belum bisa menghargai apa yang kita temui di tempat-tempat yang kita kunjungi, lebih baik kita tinggal di rumah saja. 

Gunung Talang; si Kecil cantik yang tidak bisa dipandang ‘Kecil’.


Rendah kok, cuma mendaki beberapa jam juga sudah sampai.”, kata seorang teman saat pertama kali kami membentuk tim pendakian Gunung Talang saat itu. Tingginya hanya 2.597 mdpl. Saya, yang memang sudah pernah melakukan beberapa pendakian gunung di atas 3000an mdpl pun awalnya menganggap remeh pendakian ini. I mean, selain tidak terlalu tinggi dan hanya memerlukan jarak tempuh yang singkat, Gunung Talang juga jenis gunung stratovolcano yang saya dengar-dengar juga tidak membutuhkan effort besar untuk mencapai puncaknya. Jadilah pendakian kali itu kami anggap hanya ‘piknik’ biasa; pendakian santai yang tidak ingin kami bawa repot. Saya dan 6 orang sahabat; pendaki-pendaki manja ini juga menyewa 2 orang guide lokal untuk menemani naik dan membantu membawa barang-barang tim.
Tiba di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kami langsung melaju menuju daerah Aia Batumbuak, salah satu titik masuk jalur pendakian Gunung Talang. Dari Aia Batumbuak, setelah melakukan registrasi di pos pendakian, kami mulai melangkah naik dikelilingi perkebunan teh warga lokal di kiri-kanan dengan jalur bebatuan yang sudah tidak mungkin lagi dilewati mobil yang mengantar. Di awal pendakian, saya cukup yakin ini akan jadi pendakian yang menyenangkan. Selain ekspektasi tidak akan berlelah-lelah, ini juga pertama kalinya saya mendaki bersama sahabat-sahabat dekat yang sehari-hari bertukar cerita bersama. Dulu, saya sangat tertarik dengan konsep travel with strangers; bagi saya, melakukan perjalanan baru bersama orang asing merupakan esensi paling menyenangkan saat bertualang. Berbagi pengalaman baru, cerita baru, bersama orang-orang baru pula. Tapi kali itu, entah mengapa saya mulai menemukan nyaman berjalan bersama mereka yang dekat dan mengerti. Jalan beriringan dengan tawa, saling melindungi di jalur sulit, memaklumi ketika kaki sudah tidak kuat lagi melangkah naik.

Jalur awal naik; ekspresi mulai ga hore.
Kami bersembilan bersama guide yang kami temui di titik awal pendakian pertama kali berhenti di R6. Jadi, di Gunung Talang, titik-titik berhenti di sepanjang jalur ditandai dengan R, yang merupakan singkatan dari Rambu. Nah, uniknya, di setiap papan rambu tertera lafadz Asmaul Husna; dari R1 hingga 99 di puncak. Ini menjadi daya tarik yang menyenangkan, tentunya. Ketika melewati satu rambu, kita bisa langsung membaca Asmaul Husna, hingga ke puncak. Di R6, ada sebuah basecamp & warung kecil yang biasanya digunakan untuk bertukar pakaian dan mandi untuk pendaki yang baru turun. Kami akhirnya bertukar-sapa dengan beberapa pendaki lain di sana, juga pertama kali mengetahui bahwa guide yang kami sewa dua-duanya masih berstatus mahasiswa; Akbar dan Ari namanya. Mereka yang nantinya akan berbagi tugas membawa barang-barang tim kami. Saya sedikit merasa bersalah saat melihat kerir setinggi kepala di punggung Akbar dan Ari, penuh hingga salah satu dari mereka harus membawa tas di depan dan di belakang saking banyaknya barang yang di bawa. Syukurlah mereka oke, tipe anak muda yang bisa melebur asyik dalam tim kami dalam waktu singkat.

Makin ke atas, jalur makin licin. Mohon maafkan ekspresi terlalu senang itu.

The Team! (Ki-Ka: Akbar, Kak Citra, Kak Nedya, Ari, Bang Alex, Bang Abi, Septian, Anak Gendut. Minus Bang Fajar ganteng yang motoin. *bilang ganteng supaya ga ngambek wkwk)
Menapak naik Gunung Talang sedikit demi sedikit membuat saya menyesal perlahan meremehkan jalurnya. Trek yang di lalui dari R6 menuju ke atas tipenya tanah terjal dan licin, yang saya tebak akan lebih parah saat hujan turun. Rambu demi rambu saya hitung, makin ke atas makin lesu karena jalur yang dilewati makin menyesakkan nafas. Menjelang magrib, kami bahkan baru melewati separuh perjalanan, ditambah ketakutan saya di awal akhirnya terjadi juga; rintik-rintik hujan mulai turun. Kami akhirnya berhenti di sekitar R31, menancapkan terpal di sekitar pepohonan untuk berlindung sekaligus menyiapkan makan malam karena hari sudah gelap. Perjalanan menuju camping ground bisa dibilang masih cukup jauh, jadi tidak memungkinkan jika kami melakukan perjalanan dalam gelap dengan perut kosong. Kala itu kami berjongkok bersama di bawah terpal, saling berbagi kopi dan teh hangat, juga saling bantu menggoreng nugget dalam canda. Gelap, berjongkok berhimpitan di bawah terpal kecil di sisi jalur naik dengan rinai gerimis yang mulai deras di luar, tapi entah mengapa hati saya rasanya hangat sekali. Tidak terdengar satupun keluhan dari mulut kami; kami menikmatinya. Bersama-sama, apapun itu rasanya keadaan terasa jauh lebih baik. Sempat terselip pesimis di dalam hati, bagaimana saya berjalan naik dengan jalur licin dalam gelap, ditambah lagi guyuran hujan dan nafas yang makin lama makin sesak. Lalu, saya menoleh pada sahabat-sahabat saya; saya yakin ada dari mereka yang memiliki kekhawatiran yang sama. Tapi semua tetap menyiapkan langkah, tetap optimis kami akan sampai di camping ground malam ini. Membuat saya ikut optimis, sedikit demi sedikit menjejak trek licin dengan senyum mengembang; ini akan jadi pengalaman baru yang akan saya ingat baik-baik.

Istirahat di jalur; mulai lelah, sudah gelap.
Makin mendekati camping ground, langkah kami makin pelan. Entah karena sudah lelah, atau memang belum terbiasa mendaki malam hari. Sekitar pukul 09.00 malam kami akhirnya tiba di camping ground Gunung Talang. Lokasinya di sekitar R54. Camping ground nya luas sekali sepanjang mata memandang. Karena tiba saat hari sudah gelap, kami tidak bisa melihat puncak dengan jelas malam itu. Satu-satunya yang saya pikirkan hanya secepatnya ganti baju yang sudah lembab di badan, lalu meringkuk hangat di tenda. Padahal, beberapa artikel yang saya baca bilang, langit malam di camping ground Gunung Talang bagus sekali; penuh taburan bintang dan sering tertangkap milkyway. Namun malam itu saya menyerah, pun juga dengan sahabat-sahabat saya. Setelah masuk meringkuk dalam tenda masing-masing, kamipun lelap dengan alasan ingin bangun pagi untuk summit.

Rambu khas Gunung Talang; satu rambu berisi satu Asmaul Husna. Unik. :)
Bangun pagi harinya, cuaca masih basah meski hujan sudah berhenti. Ketika keluar tenda, yang saya dapati pertama kali adalah fakta bahwa camping ground Gunung Talang ini cantik sekali. Area luas dengan pemandangan lepas ke puncak dan hamparan bukit savanna di sisi lain. Sejauh mata memandang, terlihat tenda warna-warni bertebaran diseluruh penjuru camping ground. Di tengah area mengalir sungai kecil dengan aliran air yang bening membelah camping ground menjadi dua sisi. Pagi itu basah, semuanya bermalas-malasan; tidak ada yang semangat untuk summit demi melihat sunrise karena cuaca begitu buruk, mendung masih menggelayut dan langit begitu gelap. Jadilah sepagian kami hanya leyeh-leyeh di tenda, berjalan-jalan mengitari camping ground, bermain-main di area luasnya sambil menikmati suasana. Gunung ini memang pas untuk pendaki-pendaki yang ingin bersantai-ria setalah berjam-jam melewati trek naik yang buruk.


Leyeh-leyeh di laybag mandangin puncak.
Iya iya bukan saya yang masak, iya. 
Gosyip pagi dengan warga tenda sebelah.
Ketemu komunitas penggiat traveling lain. 
Pagi menjelang siang hanya kami habiskan bercengkrama satu sama lain di tenda karena rintik hujan sesekali turun lagi pagi itu. Saya dan sahabat-sahabat kesayangan saya memasak bersama, bermain truth or dare, lalu bernyanyi sumbang dengan petikan gitar yang manis. Hujan di luar menciptakan quality time tersendiri untuk kami. Menjelang siang, beberapa sahabat saya yang penasaran akhirnya memutuskan untuk summit. Saya tidak termasuk salah satunya karena dari pagi diare dan rasanya tidak sanggup menapak naik lagi melewati batas vegetasi yang saya yakin didominasi trek bebatuan. Jadilah saya tinggal di tenda, leyeh-leyeh di laybag, lalu bersama Bang Abi yang juga ikut tinggal naik ke sisi lain camping ground untuk melihat pemandangan dari atas. Salah satu sisi camping ground Gunung Talang ini sering dijadikan tempat untuk ber-hammock ria sambil melihat pemandangan cantik tiga danau dari atas; Danau di Atas, Danau di Bawah dan Danau Talang. Ketika naik ke sana siang itu, kami dihujani sapa ramah dari pendaki-pendaki lain yang berpapasan atau bahkan sedang bersantai di-hammock. “Pak. Bu.”, sapaan yang tidak luput ketika kami bertemu dengan pendaki lain. Sapaan khas pendaki Sumbar yang tidak ada hubungannya dengan usia yang disapa, katanya. Saya, yang saat itu sibuk dengan kamera disapa ceria oleh serombongan pendaki muda yang sedang bersantai di hammock yang disusun bertingkat. “Fotoin kita dong, Buuuu.”, seru mereka ramah, membuat saya tersenyum lebar sambil spontan mengangkat kamera. Hati saya hangat sekali. Setelah beberapa kali jepretan, anak-anak manis itu mengajak saya naik ke tingkatan hammock. I’m surely so excited. Pemandangan dari atas hammock membuat saya senyum lebar sekali; hamparan tenda warna-warni yang cerah dilatarbelakangi rerumputan. I’m in love with the view!

Camping Ground dari atas. 
SE-HAPPY ITUH!
View tiga danau dari atas. Sayangnya cuaca ngebuat viewnya ketutup kabut.
Saya turun dengan sumringah; entah mengapa bahagia saya memang sesederhana itu. Menemui orang asing yang begitu ramah dan baik, yang memperlakukan kita layaknya teman lama, berbicara pada kita seakan sudah sangat kenal; esensi paling menyenangkan dari sebuah perjalanan. Ditambah lagi ketika turun bertemu lagi dengan sahabat-sahabat saya yang baru turun dari puncak; berbagi cerita dengan apa yang mereka temui disana. Ah, terlalu senang. Meskipun kami tidak bertemu cuaca bagus, tidak melihat milkyway, pun tidak bisa summit subuh-subuh untuk melihat sunrise dari puncak Gunung Talang, tapi pendakian kali ini terasa begitu menyenangkan. Siang itu kami turun dengan cerita baru di kepala masing-masing, juga dengan rintik yang tetap awet menemani. Perjalanan turun juga tidak mudah, karena jalur sudah hancur diguyur hujan dari kemarin. Terpeleset-peleset, kami turun perlahan; saling genggam dan saling melindungi. Hingga akhirnya tiba di R6 kembali; tenaga kami mungkin sudah habis, tapi cerita baik dari pendakian kali ini tetap semangat keluar hingga kami pulang.


Tim hore packing siap-siap turun.
Jalan turun yang ga kalah licin dari jalur naik.
Kondisi mereka setelah ketemu jalur Gunung Talang.


A glimpse of happiness from Nusa Penida.


Apa yang kamu pikirkan pertama kali ketika mendengar nama Nusa Penida?

Saya: nothing.

Mengunjungi Nusa Penida kali itu memang benar-benar tanpa rencana; tanpa menyusun itinerary lebih dahulu, hanya bermodalkan googlemaps, hasil searching buru-buru di dalam taksi online dan bertanya sana-sini pada penduduk lokal. But you know what, Nusa Penida benar-benar diluar ekspektasi saya. Menemui pantai-pantai indah yang dikelilingi tebing-tebing curam, beberapa masih sepi dan alami; pertanda belum banyak tersentuh padatnya jejak-jejak turis. Hari pertama di Nusa Penida, saya mengamini perkataan banyak orang; Bali is always a good idea.

Hari pertama, kami menyebrang ke Nusa Penida menggunakan fast boat lewat pelabuhan Sanur. Saya, Septian, Bang Abi dan Kak Nedya mulai excited; saling tersenyum lebar bersiap memulai petualangan hari itu. Tidak banyak rencana, pun ekspektasi di kepala ingin kemana atau mau melakukan apa setibanya nanti di Nusa Penida. Hanya mengikuti langkah kaki, dengan sedikit informasi yang didapat dari beberapa postingan travel blogger tentang must-visit places yang ada di Nusa Penida. Saat di fast boat, kami bahkan belum mereservasi kamar, belum ada ide mau menginap dimana, dan akan berkeliling Nusa Penida menggunakan apa. It was really unplanned trip as i said. Beruntung di dalam fast boat kami dihampiri awak kapal yang menawarkan jasa sewa motor kala itu. “Nanti sesampainya di pelabuhan, istri saya ada disana. Bilang saja yang mau sewa motor.”, katanya ramah dengan aksen Bali yang kental. One problem solved. Beberapa postingan memang merekomendasikan menjelajah Nusa Penida menggunakan motor ketimbang dengan mobil. Lebih intens dan menyenangkan, katanya. Terlebih Nusa Penida merupakan pulau kecil yang tidak terlalu padat penduduknya dengan jalanannya yang lengang.

Setibanya di pelabuhan, barulah kami menyusun rencana perjalanan singkat; membagi itinerary akan bertualang kemana dulu setelah menyusuri cepat maps info wisata yang kami tarik dari box brosur di pelabuhan Sanur saat akan menyebrang. Secara garis besar, spot-spot wisata di Nusa Penida bisa dibagi menjadi dua rute; ke sebelah timur dan sebelah barat. Yang mana yang akan dikunjungi lebih dulu akan menjadi patokan dimana kami harus menginap malam itu, agar besok paginya akses ke destinasi yang dituju tidak terlalu memakan waktu lama; mengingat kami akan road trip menggunakan motor. In our case, kami memutuskan untuk menjelajah bagian barat terlebih dahulu. Memasukkan Crystal Bay, Angel Billabong, Broken Beach, Kelingking Beach dan Air Terjun Seganing ke dalam rencana perjalanan esok hari, dalam hati berharap semoga besok akan menyenangkan.

Setelah menemukan homestay yang cukup nyaman untuk berempat (I forgot about its name, my bad huhu), bermodalkan googlemaps kami menyusuri jalanan desa menuju Crystal Bay, berencana menikmati sunset di sana sore itu. Kata penduduk lokal yang kami temui di jalan, jaraknya hanya 15 menit dari tempat kami menginap. Crystal Bay sendiri adalah sebuah pantai cantik yang di satu sisinya terdapat teluk kecil yang lagi-lagi beyond my expectation; indah sekali. Sore itu tidak terlalu banyak orang disana, hanya satu-dua turis asing yang ketika kami datang sedang bergegas hendak pulang. Dari tempat masuk pantai, untuk menuju ke teluk kecil ini kami harus trekking sekitar 5-10 menit menaiki tebing, lalu turun hingga bertemu pantai disisi lain. Saya tersenyum lebar sekali saat tiba di bawah; menginjakkan kaki dengan girang di pasir putih bersih dengan hamparan laut biru sepanjang mata memandang. Selain kami, hanya ada dua turis asing di sana. Membuat teluk ini serasa private beach, membuat saya berlarian kesana-kesini kesenangan. Sore itu mendung, kami gagal menangkap sunset; tapi kami tertawa-tawa. Entahlah, ada begitu banyak hal yang masih bisa disyukuri. Lantas, untuk apa sedih?

View dari atas bukit menuju Crystal Bay
Crystal Bay
Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi sekali untuk memulai perjalanan ke arah barat Nusa Penida. Dengan motor, pagi itu kami menyusuri jalanan menuju Angel Billabong dan Broken Beach (also known as Pasih Uug). Katanya penduduk lokal sih, you have to pass through the broken road to get to the broken beach. Benar saja, hampir sepanjang perjalanan kami harus ikhlas motoran melewati jalanan penuh bebatuan, gerudukan dan rusak. As i said before, mungkin karena Nusa Penida ini masih belum banyak terjamah padatnya turis, maka akses jalan pun masih belum banyak yang diperhatikan oleh pemerintah setempat. Sesampainya di kawasan Angel Billabong, segala keluh kesah gundah gulana perut mual pantat perih pun terbayar lunas tuntas. Infinity pool-nya Nusa Penida, kata seorang teman saat merekomendasikan kunjungan ke tempat ini. Dulu katanya, turis-turis diperbolehkan turun untuk berenang di Angel Billabong. Namun sejak pernah ada kejadian dua turis asing tewas terseret arus pasang tiba-tiba saat berenang, pengelola Angel Billabong melarang pengunjung untuk turun; even hanya untuk mencelupkan kaki. But its not a big deal for me; bisa melihat tempat sebagus ini saja rasanya cukup. Berenang bisa di tempat lain, kan ya?

Angel Billabong from above.
Another side of Angel Billabong
Satu kawasan dengan Angel Billabong, kami menyusur setapak kecil menuju Pasih Uug, atau yang lebih dikenal dengan Broken Beach. Tebing indah dengan lubang besar di tengah tempat hamparan air laut menyerbu masuk membuat Broken Beach menjadi salah satu destinasi paling sering dikunjungi di Nusa Penida. Di tempat ini, biasanya turis hanya bisa berkeliling dan mengambil gambar. Hari itu cerah sekali rasanya, matahari juga sedang cantik-cantiknya mengguyur Nusa Penida. Meski panas, saya dan sahabat-sahabat tetap tidak bergeming. Tempat secantik ini, cuaca sebagus ini, sayang sekali rasanya dilewatkan dengan duduk manyun dan merisaukan hal-hal tidak penting di dalam kepala.

Broken Beach
Jalan setapak menuju Broken Beach. Lucu kan ya? Orangnya~
Eh?
Keluar dari area Broken Beach, kami kembali motoran bertemu jalan-jalan rusak, meneruskan perjalanan menuju Kelingking Beach. Satu lagi destinasi paling hits di Nusa Penida. Jaraknya dari Broken Beach sekitar 1 jam perjalanan lagi. Siang itu panas menyengat, tapi hati saya penuh senang, tenang. Sebenarnya seingat saya, hari itu banyak sekali selisih pendapat antara kami berempat. Empat kepala dalam satu perjalanan; jelas sedikit banyak pasti ada benturan. Ada yang tidak sabar, ada yang terlalu santai. Ada yang ingin bersih, ada yang tidak apa berkotor-kotor. Ada yang manja, ada pula yang inginnya semua dewasa. Ada saatnya kami saling tidak menyukai satu sama lain, kesal dengan cara masing-masing menyikapi perjalanan. Hebatnya, kami saling maklum dalam diam. Tetap saling menjaga, saling mendinginkan kepala dan berusaha meredam ego; sekalipun dalam diam. Kami tetap melanjutkan perjalanan, tetap dengan itinerary di tangan. Dan saya bangga pada mereka; teman-teman perjalanan favorit saya.

Ke-sa-ya-ngan.
Sesampainya di Kelingking Beach, saya speechless. I’v seen that place before, in the articles ofcourse, tapi tidak menyangka tempatnya akan sebagus ini. Saya melongo sepersekian detik, lalu tersenyum lebar; siap mengangkat kamera. Kelingking Beach is really worth to visit. Meski tidak turun dan hanya memandangi tebing T-rex (ya, bentuknya menyerupai T-rex, kan ya?) dari atas, saya tetap terpesona. Banyak yang menyayangkan kenapa sudah sampai kesana tapi tidak turun bermain di pantainya. Well, we just knew our limits. Hari itu panas menyengat, saya sedang batuk flu parah dan kami memandangi jalur trekking turun ke bawah dengan nanar. Jalur sempit yang curam panjang dengan jurang di kanan-kiri, hanya disangga kayu bambu. Saya bertukar tatapan dengan sahabat-sahabat saya, dan mereka kompak menggeleng. Mungkin kali ini bukan saatnya, dan saya berdoa dalam hati semoga ada ‘lain-kali’ untuk turun ke bawah.

Fotonya sok oke, aslinya gemeteran sih ini. Kepleset dikit bye gelindingan ke jurang.
Sebagus itu dari atas. Next time, next time~
Peringatan untuk pengunjung. Just know your limits sih kalo mau turun.
Oh ya, saya bertemu dengan gadis kecil cantik saat mengantre spot foto di salah satu sudut Kelingking Beach. Namanya Made kalau saya tidak salah ingat, dan si cantik ini duduk manis di sana membantu neneknya menjaga spot foto tersebut. Dunno why, setiap pergi kemanapun, saya selalu tertarik menyapa anak-anak lokal; menanyakan mereka pergi sekolah atau tidak, sedang bermain apa, atau hanya sekedar menanyakan nama. Made tersenyum malu sembari mengangguk saat saya bertanya tentang sekolahnya, disambut senyum ramah neneknya yang ikut dalam obrolan. For you who have plan to visit Kelingking Beach, don’t forget to meet her, yaa. Anaknya lucu.

Ngobrol sama Made :)
Made: Duh, udah belum ya. Sibuk nih~
Dari Kelingking Beach, kami kembali menyusuri maps. Teringat, ada satu petunjuk arah air terjun di sisi jalan yang kami lewati tadi. Namanya Air Terjun Seganing. Karena hari belum terlalu sore, jadilah kami berbelok mengikuti papan petunjuk arah yang menurut kesotoyan kami tidak terlalu jauh jaraknya. Dengan bermodalkan sapa-tanya sana-sini dengan warga lokal yang kami temui di jalan, sekitar setengah jam perjalanan akhirnya kami tiba di destinasi yang dimaksud. Saling nyengir karena ternyata lokasinya cukup jauh. Disana sepi sekali, hanya ada seorang wanita paruh baya yang duduk di Bale bambu, menunggui parkiran pengunjung. Ada dua tempat yang bisa dikunjungi di sana; satu pura di ujung tebing tempat pengunjung biasanya menunggu matahari terbenam, lalu Air Terjun Seganing di bawah tebing, yang menurut penuturan ibu yang kami temui di Bale, hanya membutuhkan 10 menit trekking ke bawah. Kami saling pandang. Pura di ujung tebing itu jauh sekali letaknya, dan rasanya harus berjalan cukup jauh untuk tiba di sana. Si Ibu dengan senyum ramah merekomendasikan untuk turun ke bawah saja karena air terjunnya bagus, pun sayang sudah tiba disana tapi tidak turun. Dengan bermodal botol air mineral di tangan masing-masing, akhirnya kami turun dengan tenaga yang tersisa hari itu. Lagi-lagi, jalanan turun ke bawah diluar ekspektasi ’10 menit trekking’ kami. Jalanannya curam, terjal dan sempit, hanya cukup untuk satu orang.  Di kiri jalan jurang ke laut lepas membentang, hanya dibatasi dengan pagar bambu yang rapuh. Saya menghela nafas, ingin sekali kembali naik tapi rasanya penasaran dengan apa yang ada di bawah. Semakin ke bawah, rasa penasaran saya berganti resah di dalam hati; ini bagaimana caranya kami trekking naik kembali dengan jalur curam begini? Saya yakin dan percaya, sahabat-sahabat saya pun begitu; terpeta jelas di wajah mereka, pun keluhan yang keluar setiap kali menjejak turun.

Trekking turun ke Seganing Waterfall. Securam itu gils.
Seganing Waterfall dari atas
Gue: Ya Gusti, ini kepleset dikit bye.
Sesampainya di bawah, kami menghela nafas; entah keberapa kali. Air Terjun Seganing, mungkin memang diluar ekspektasi kami; hanya aliran kecil mata air yang mungkin tidak bisa disebut ‘air terjun’. Tapi sekali lagi, kami tidak menyesal turun ke bawah. Meski dengan effort yang lumayan, meski tidak bertemu air terjun yang diharapkan, kami diberi ganti sunset yang menawan dari bawah tebing. And we never meet the sunset we didn’t like, right? Sore itu kami tetap girang, dinaungi langit jingga menawan, menatap optimis jalur naik kembali meski dengan senyum lelah. Menutup perjalanan kami hari itu dengan banyak cerita baru, pengalaman baru.

Ketika akhirnya nyampe~
Sunset di Seganing Waterfall, i couldn't ask more.
Hari ketiga di Nusa Penida, kami berpindah ke sisi barat. Ada Atuh Beach dan Thousand Island dalam list itinerary hari itu. Setelah beristirahat semalam di salah satu homestay menyenangkan di Klungkung, paginya kami menyusuri jalanan Nusa Penida menuju Atuh Beach, dengan siraman panas yang sama dahsyatnya dengan kemarin. Atuh Beach dan Thousand Island lokasinya hampir berdekatan, dengan tipe pantai dan view khas Nusa Penida; tebing-tebing indah dikelilingi hamparan laut biru sepanjang mata memandang. Di lokasi yang sama, ada juga Tree House Batu Molenteng yang bisa dijadikan tempat menikmati view Nusa Penida dari sisi lain. Sayangnya kami tidak sempat mampir karena harus mengejar jadwal kapal kembali ke Denpasar. 

Atuh Beach
Thousand Island-nya Nusa Penida
Sebenarnya, kami diberitahu oleh warga lokal masih banyak sekali spot menawan lain di Nusa Penida yang bisa di kunjungi. Seperti Manta Point; dimana kamu bisa berenang bersama Manta. Maaf, Manta ya, bukan mantan. Satu tempat dimana pengunjung dibawa ke satu spot di laut untuk terjun berenang bertemu Manta. Tapi berhubung saya bukan tipe manusia insang yang betah berlama-lama di air alias bukan jagoannya berenang, jadilah Manta Point dicoret dari itinerary kami, hehe. Ada juga Bukit Teletubbies yang katanya menyuguhi view hamparan bebukitan hijau dan savanna luas yang indah, dan beberapa destinasi lain yang sama menariknya di Nusa Penida. Sayangnya kami hanya punya tiga hari saat itu. Semoga ada lain kali untuk kembali kesana. Semoga kita bisa ke sana sama-sama. Eh.

Selamat jalan-jalan!


Notes for you:
-Biaya fast boat sekali jalan dari Pelabuhan Sanur berkisar 75-100k.
-Harga sewa motor di Nusa Penida berkisar antara 70-100k/hari. Bijaklah dalam menawar harga. :)
-Untuk yang beragama Muslim, ada kampung Muslim yang menyediakan makanan halal yang enak (Ayam Penyet-nya juara!). Saya lupa namanya, tapi tempatnya di daerah pasar dekat ATM BRI (super gajelas ini ya mohon maaf hehe). Tanya sama warga lokal kampung muslim dimana, semua tahu kok.
-Di hari kedua, kami menginap di The Mels Homestay (search via traveloka ada). Hotelnya bagus, pelayanannya juara. Pemiliknya sangat ramah dan membantu sekali. Harga kamar ada di range 400k. Sewa motor di sana juga bisa, hanya 60k/hari (dan kami menyesal baru menemukannya di hari terakhir, haha.)
-Jangan lupa topi, masker penutup mulut/buff, juga pelindung badan lainnya. Kalau menggunakan motor, debunya juga juara.