Gunung Talang; si Kecil cantik yang tidak bisa dipandang ‘Kecil’.


Rendah kok, cuma mendaki beberapa jam juga sudah sampai.”, kata seorang teman saat pertama kali kami membentuk tim pendakian Gunung Talang saat itu. Tingginya hanya 2.597 mdpl. Saya, yang memang sudah pernah melakukan beberapa pendakian gunung di atas 3000an mdpl pun awalnya menganggap remeh pendakian ini. I mean, selain tidak terlalu tinggi dan hanya memerlukan jarak tempuh yang singkat, Gunung Talang juga jenis gunung stratovolcano yang saya dengar-dengar juga tidak membutuhkan effort besar untuk mencapai puncaknya. Jadilah pendakian kali itu kami anggap hanya ‘piknik’ biasa; pendakian santai yang tidak ingin kami bawa repot. Saya dan 6 orang sahabat; pendaki-pendaki manja ini juga menyewa 2 orang guide lokal untuk menemani naik dan membantu membawa barang-barang tim.
Tiba di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kami langsung melaju menuju daerah Aia Batumbuak, salah satu titik masuk jalur pendakian Gunung Talang. Dari Aia Batumbuak, setelah melakukan registrasi di pos pendakian, kami mulai melangkah naik dikelilingi perkebunan teh warga lokal di kiri-kanan dengan jalur bebatuan yang sudah tidak mungkin lagi dilewati mobil yang mengantar. Di awal pendakian, saya cukup yakin ini akan jadi pendakian yang menyenangkan. Selain ekspektasi tidak akan berlelah-lelah, ini juga pertama kalinya saya mendaki bersama sahabat-sahabat dekat yang sehari-hari bertukar cerita bersama. Dulu, saya sangat tertarik dengan konsep travel with strangers; bagi saya, melakukan perjalanan baru bersama orang asing merupakan esensi paling menyenangkan saat bertualang. Berbagi pengalaman baru, cerita baru, bersama orang-orang baru pula. Tapi kali itu, entah mengapa saya mulai menemukan nyaman berjalan bersama mereka yang dekat dan mengerti. Jalan beriringan dengan tawa, saling melindungi di jalur sulit, memaklumi ketika kaki sudah tidak kuat lagi melangkah naik.

Jalur awal naik; ekspresi mulai ga hore.
Kami bersembilan bersama guide yang kami temui di titik awal pendakian pertama kali berhenti di R6. Jadi, di Gunung Talang, titik-titik berhenti di sepanjang jalur ditandai dengan R, yang merupakan singkatan dari Rambu. Nah, uniknya, di setiap papan rambu tertera lafadz Asmaul Husna; dari R1 hingga 99 di puncak. Ini menjadi daya tarik yang menyenangkan, tentunya. Ketika melewati satu rambu, kita bisa langsung membaca Asmaul Husna, hingga ke puncak. Di R6, ada sebuah basecamp & warung kecil yang biasanya digunakan untuk bertukar pakaian dan mandi untuk pendaki yang baru turun. Kami akhirnya bertukar-sapa dengan beberapa pendaki lain di sana, juga pertama kali mengetahui bahwa guide yang kami sewa dua-duanya masih berstatus mahasiswa; Akbar dan Ari namanya. Mereka yang nantinya akan berbagi tugas membawa barang-barang tim kami. Saya sedikit merasa bersalah saat melihat kerir setinggi kepala di punggung Akbar dan Ari, penuh hingga salah satu dari mereka harus membawa tas di depan dan di belakang saking banyaknya barang yang di bawa. Syukurlah mereka oke, tipe anak muda yang bisa melebur asyik dalam tim kami dalam waktu singkat.

Makin ke atas, jalur makin licin. Mohon maafkan ekspresi terlalu senang itu.

The Team! (Ki-Ka: Akbar, Kak Citra, Kak Nedya, Ari, Bang Alex, Bang Abi, Septian, Anak Gendut. Minus Bang Fajar ganteng yang motoin. *bilang ganteng supaya ga ngambek wkwk)
Menapak naik Gunung Talang sedikit demi sedikit membuat saya menyesal perlahan meremehkan jalurnya. Trek yang di lalui dari R6 menuju ke atas tipenya tanah terjal dan licin, yang saya tebak akan lebih parah saat hujan turun. Rambu demi rambu saya hitung, makin ke atas makin lesu karena jalur yang dilewati makin menyesakkan nafas. Menjelang magrib, kami bahkan baru melewati separuh perjalanan, ditambah ketakutan saya di awal akhirnya terjadi juga; rintik-rintik hujan mulai turun. Kami akhirnya berhenti di sekitar R31, menancapkan terpal di sekitar pepohonan untuk berlindung sekaligus menyiapkan makan malam karena hari sudah gelap. Perjalanan menuju camping ground bisa dibilang masih cukup jauh, jadi tidak memungkinkan jika kami melakukan perjalanan dalam gelap dengan perut kosong. Kala itu kami berjongkok bersama di bawah terpal, saling berbagi kopi dan teh hangat, juga saling bantu menggoreng nugget dalam canda. Gelap, berjongkok berhimpitan di bawah terpal kecil di sisi jalur naik dengan rinai gerimis yang mulai deras di luar, tapi entah mengapa hati saya rasanya hangat sekali. Tidak terdengar satupun keluhan dari mulut kami; kami menikmatinya. Bersama-sama, apapun itu rasanya keadaan terasa jauh lebih baik. Sempat terselip pesimis di dalam hati, bagaimana saya berjalan naik dengan jalur licin dalam gelap, ditambah lagi guyuran hujan dan nafas yang makin lama makin sesak. Lalu, saya menoleh pada sahabat-sahabat saya; saya yakin ada dari mereka yang memiliki kekhawatiran yang sama. Tapi semua tetap menyiapkan langkah, tetap optimis kami akan sampai di camping ground malam ini. Membuat saya ikut optimis, sedikit demi sedikit menjejak trek licin dengan senyum mengembang; ini akan jadi pengalaman baru yang akan saya ingat baik-baik.

Istirahat di jalur; mulai lelah, sudah gelap.
Makin mendekati camping ground, langkah kami makin pelan. Entah karena sudah lelah, atau memang belum terbiasa mendaki malam hari. Sekitar pukul 09.00 malam kami akhirnya tiba di camping ground Gunung Talang. Lokasinya di sekitar R54. Camping ground nya luas sekali sepanjang mata memandang. Karena tiba saat hari sudah gelap, kami tidak bisa melihat puncak dengan jelas malam itu. Satu-satunya yang saya pikirkan hanya secepatnya ganti baju yang sudah lembab di badan, lalu meringkuk hangat di tenda. Padahal, beberapa artikel yang saya baca bilang, langit malam di camping ground Gunung Talang bagus sekali; penuh taburan bintang dan sering tertangkap milkyway. Namun malam itu saya menyerah, pun juga dengan sahabat-sahabat saya. Setelah masuk meringkuk dalam tenda masing-masing, kamipun lelap dengan alasan ingin bangun pagi untuk summit.

Rambu khas Gunung Talang; satu rambu berisi satu Asmaul Husna. Unik. :)
Bangun pagi harinya, cuaca masih basah meski hujan sudah berhenti. Ketika keluar tenda, yang saya dapati pertama kali adalah fakta bahwa camping ground Gunung Talang ini cantik sekali. Area luas dengan pemandangan lepas ke puncak dan hamparan bukit savanna di sisi lain. Sejauh mata memandang, terlihat tenda warna-warni bertebaran diseluruh penjuru camping ground. Di tengah area mengalir sungai kecil dengan aliran air yang bening membelah camping ground menjadi dua sisi. Pagi itu basah, semuanya bermalas-malasan; tidak ada yang semangat untuk summit demi melihat sunrise karena cuaca begitu buruk, mendung masih menggelayut dan langit begitu gelap. Jadilah sepagian kami hanya leyeh-leyeh di tenda, berjalan-jalan mengitari camping ground, bermain-main di area luasnya sambil menikmati suasana. Gunung ini memang pas untuk pendaki-pendaki yang ingin bersantai-ria setalah berjam-jam melewati trek naik yang buruk.


Leyeh-leyeh di laybag mandangin puncak.
Iya iya bukan saya yang masak, iya. 
Gosyip pagi dengan warga tenda sebelah.
Ketemu komunitas penggiat traveling lain. 
Pagi menjelang siang hanya kami habiskan bercengkrama satu sama lain di tenda karena rintik hujan sesekali turun lagi pagi itu. Saya dan sahabat-sahabat kesayangan saya memasak bersama, bermain truth or dare, lalu bernyanyi sumbang dengan petikan gitar yang manis. Hujan di luar menciptakan quality time tersendiri untuk kami. Menjelang siang, beberapa sahabat saya yang penasaran akhirnya memutuskan untuk summit. Saya tidak termasuk salah satunya karena dari pagi diare dan rasanya tidak sanggup menapak naik lagi melewati batas vegetasi yang saya yakin didominasi trek bebatuan. Jadilah saya tinggal di tenda, leyeh-leyeh di laybag, lalu bersama Bang Abi yang juga ikut tinggal naik ke sisi lain camping ground untuk melihat pemandangan dari atas. Salah satu sisi camping ground Gunung Talang ini sering dijadikan tempat untuk ber-hammock ria sambil melihat pemandangan cantik tiga danau dari atas; Danau di Atas, Danau di Bawah dan Danau Talang. Ketika naik ke sana siang itu, kami dihujani sapa ramah dari pendaki-pendaki lain yang berpapasan atau bahkan sedang bersantai di-hammock. “Pak. Bu.”, sapaan yang tidak luput ketika kami bertemu dengan pendaki lain. Sapaan khas pendaki Sumbar yang tidak ada hubungannya dengan usia yang disapa, katanya. Saya, yang saat itu sibuk dengan kamera disapa ceria oleh serombongan pendaki muda yang sedang bersantai di hammock yang disusun bertingkat. “Fotoin kita dong, Buuuu.”, seru mereka ramah, membuat saya tersenyum lebar sambil spontan mengangkat kamera. Hati saya hangat sekali. Setelah beberapa kali jepretan, anak-anak manis itu mengajak saya naik ke tingkatan hammock. I’m surely so excited. Pemandangan dari atas hammock membuat saya senyum lebar sekali; hamparan tenda warna-warni yang cerah dilatarbelakangi rerumputan. I’m in love with the view!

Camping Ground dari atas. 
SE-HAPPY ITUH!
View tiga danau dari atas. Sayangnya cuaca ngebuat viewnya ketutup kabut.
Saya turun dengan sumringah; entah mengapa bahagia saya memang sesederhana itu. Menemui orang asing yang begitu ramah dan baik, yang memperlakukan kita layaknya teman lama, berbicara pada kita seakan sudah sangat kenal; esensi paling menyenangkan dari sebuah perjalanan. Ditambah lagi ketika turun bertemu lagi dengan sahabat-sahabat saya yang baru turun dari puncak; berbagi cerita dengan apa yang mereka temui disana. Ah, terlalu senang. Meskipun kami tidak bertemu cuaca bagus, tidak melihat milkyway, pun tidak bisa summit subuh-subuh untuk melihat sunrise dari puncak Gunung Talang, tapi pendakian kali ini terasa begitu menyenangkan. Siang itu kami turun dengan cerita baru di kepala masing-masing, juga dengan rintik yang tetap awet menemani. Perjalanan turun juga tidak mudah, karena jalur sudah hancur diguyur hujan dari kemarin. Terpeleset-peleset, kami turun perlahan; saling genggam dan saling melindungi. Hingga akhirnya tiba di R6 kembali; tenaga kami mungkin sudah habis, tapi cerita baik dari pendakian kali ini tetap semangat keluar hingga kami pulang.


Tim hore packing siap-siap turun.
Jalan turun yang ga kalah licin dari jalur naik.
Kondisi mereka setelah ketemu jalur Gunung Talang.


A glimpse of happiness from Nusa Penida.


Apa yang kamu pikirkan pertama kali ketika mendengar nama Nusa Penida?

Saya: nothing.

Mengunjungi Nusa Penida kali itu memang benar-benar tanpa rencana; tanpa menyusun itinerary lebih dahulu, hanya bermodalkan googlemaps, hasil searching buru-buru di dalam taksi online dan bertanya sana-sini pada penduduk lokal. But you know what, Nusa Penida benar-benar diluar ekspektasi saya. Menemui pantai-pantai indah yang dikelilingi tebing-tebing curam, beberapa masih sepi dan alami; pertanda belum banyak tersentuh padatnya jejak-jejak turis. Hari pertama di Nusa Penida, saya mengamini perkataan banyak orang; Bali is always a good idea.

Hari pertama, kami menyebrang ke Nusa Penida menggunakan fast boat lewat pelabuhan Sanur. Saya, Septian, Bang Abi dan Kak Nedya mulai excited; saling tersenyum lebar bersiap memulai petualangan hari itu. Tidak banyak rencana, pun ekspektasi di kepala ingin kemana atau mau melakukan apa setibanya nanti di Nusa Penida. Hanya mengikuti langkah kaki, dengan sedikit informasi yang didapat dari beberapa postingan travel blogger tentang must-visit places yang ada di Nusa Penida. Saat di fast boat, kami bahkan belum mereservasi kamar, belum ada ide mau menginap dimana, dan akan berkeliling Nusa Penida menggunakan apa. It was really unplanned trip as i said. Beruntung di dalam fast boat kami dihampiri awak kapal yang menawarkan jasa sewa motor kala itu. “Nanti sesampainya di pelabuhan, istri saya ada disana. Bilang saja yang mau sewa motor.”, katanya ramah dengan aksen Bali yang kental. One problem solved. Beberapa postingan memang merekomendasikan menjelajah Nusa Penida menggunakan motor ketimbang dengan mobil. Lebih intens dan menyenangkan, katanya. Terlebih Nusa Penida merupakan pulau kecil yang tidak terlalu padat penduduknya dengan jalanannya yang lengang.

Setibanya di pelabuhan, barulah kami menyusun rencana perjalanan singkat; membagi itinerary akan bertualang kemana dulu setelah menyusuri cepat maps info wisata yang kami tarik dari box brosur di pelabuhan Sanur saat akan menyebrang. Secara garis besar, spot-spot wisata di Nusa Penida bisa dibagi menjadi dua rute; ke sebelah timur dan sebelah barat. Yang mana yang akan dikunjungi lebih dulu akan menjadi patokan dimana kami harus menginap malam itu, agar besok paginya akses ke destinasi yang dituju tidak terlalu memakan waktu lama; mengingat kami akan road trip menggunakan motor. In our case, kami memutuskan untuk menjelajah bagian barat terlebih dahulu. Memasukkan Crystal Bay, Angel Billabong, Broken Beach, Kelingking Beach dan Air Terjun Seganing ke dalam rencana perjalanan esok hari, dalam hati berharap semoga besok akan menyenangkan.

Setelah menemukan homestay yang cukup nyaman untuk berempat (I forgot about its name, my bad huhu), bermodalkan googlemaps kami menyusuri jalanan desa menuju Crystal Bay, berencana menikmati sunset di sana sore itu. Kata penduduk lokal yang kami temui di jalan, jaraknya hanya 15 menit dari tempat kami menginap. Crystal Bay sendiri adalah sebuah pantai cantik yang di satu sisinya terdapat teluk kecil yang lagi-lagi beyond my expectation; indah sekali. Sore itu tidak terlalu banyak orang disana, hanya satu-dua turis asing yang ketika kami datang sedang bergegas hendak pulang. Dari tempat masuk pantai, untuk menuju ke teluk kecil ini kami harus trekking sekitar 5-10 menit menaiki tebing, lalu turun hingga bertemu pantai disisi lain. Saya tersenyum lebar sekali saat tiba di bawah; menginjakkan kaki dengan girang di pasir putih bersih dengan hamparan laut biru sepanjang mata memandang. Selain kami, hanya ada dua turis asing di sana. Membuat teluk ini serasa private beach, membuat saya berlarian kesana-kesini kesenangan. Sore itu mendung, kami gagal menangkap sunset; tapi kami tertawa-tawa. Entahlah, ada begitu banyak hal yang masih bisa disyukuri. Lantas, untuk apa sedih?

View dari atas bukit menuju Crystal Bay
Crystal Bay
Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi sekali untuk memulai perjalanan ke arah barat Nusa Penida. Dengan motor, pagi itu kami menyusuri jalanan menuju Angel Billabong dan Broken Beach (also known as Pasih Uug). Katanya penduduk lokal sih, you have to pass through the broken road to get to the broken beach. Benar saja, hampir sepanjang perjalanan kami harus ikhlas motoran melewati jalanan penuh bebatuan, gerudukan dan rusak. As i said before, mungkin karena Nusa Penida ini masih belum banyak terjamah padatnya turis, maka akses jalan pun masih belum banyak yang diperhatikan oleh pemerintah setempat. Sesampainya di kawasan Angel Billabong, segala keluh kesah gundah gulana perut mual pantat perih pun terbayar lunas tuntas. Infinity pool-nya Nusa Penida, kata seorang teman saat merekomendasikan kunjungan ke tempat ini. Dulu katanya, turis-turis diperbolehkan turun untuk berenang di Angel Billabong. Namun sejak pernah ada kejadian dua turis asing tewas terseret arus pasang tiba-tiba saat berenang, pengelola Angel Billabong melarang pengunjung untuk turun; even hanya untuk mencelupkan kaki. But its not a big deal for me; bisa melihat tempat sebagus ini saja rasanya cukup. Berenang bisa di tempat lain, kan ya?

Angel Billabong from above.
Another side of Angel Billabong
Satu kawasan dengan Angel Billabong, kami menyusur setapak kecil menuju Pasih Uug, atau yang lebih dikenal dengan Broken Beach. Tebing indah dengan lubang besar di tengah tempat hamparan air laut menyerbu masuk membuat Broken Beach menjadi salah satu destinasi paling sering dikunjungi di Nusa Penida. Di tempat ini, biasanya turis hanya bisa berkeliling dan mengambil gambar. Hari itu cerah sekali rasanya, matahari juga sedang cantik-cantiknya mengguyur Nusa Penida. Meski panas, saya dan sahabat-sahabat tetap tidak bergeming. Tempat secantik ini, cuaca sebagus ini, sayang sekali rasanya dilewatkan dengan duduk manyun dan merisaukan hal-hal tidak penting di dalam kepala.

Broken Beach
Jalan setapak menuju Broken Beach. Lucu kan ya? Orangnya~
Eh?
Keluar dari area Broken Beach, kami kembali motoran bertemu jalan-jalan rusak, meneruskan perjalanan menuju Kelingking Beach. Satu lagi destinasi paling hits di Nusa Penida. Jaraknya dari Broken Beach sekitar 1 jam perjalanan lagi. Siang itu panas menyengat, tapi hati saya penuh senang, tenang. Sebenarnya seingat saya, hari itu banyak sekali selisih pendapat antara kami berempat. Empat kepala dalam satu perjalanan; jelas sedikit banyak pasti ada benturan. Ada yang tidak sabar, ada yang terlalu santai. Ada yang ingin bersih, ada yang tidak apa berkotor-kotor. Ada yang manja, ada pula yang inginnya semua dewasa. Ada saatnya kami saling tidak menyukai satu sama lain, kesal dengan cara masing-masing menyikapi perjalanan. Hebatnya, kami saling maklum dalam diam. Tetap saling menjaga, saling mendinginkan kepala dan berusaha meredam ego; sekalipun dalam diam. Kami tetap melanjutkan perjalanan, tetap dengan itinerary di tangan. Dan saya bangga pada mereka; teman-teman perjalanan favorit saya.

Ke-sa-ya-ngan.
Sesampainya di Kelingking Beach, saya speechless. I’v seen that place before, in the articles ofcourse, tapi tidak menyangka tempatnya akan sebagus ini. Saya melongo sepersekian detik, lalu tersenyum lebar; siap mengangkat kamera. Kelingking Beach is really worth to visit. Meski tidak turun dan hanya memandangi tebing T-rex (ya, bentuknya menyerupai T-rex, kan ya?) dari atas, saya tetap terpesona. Banyak yang menyayangkan kenapa sudah sampai kesana tapi tidak turun bermain di pantainya. Well, we just knew our limits. Hari itu panas menyengat, saya sedang batuk flu parah dan kami memandangi jalur trekking turun ke bawah dengan nanar. Jalur sempit yang curam panjang dengan jurang di kanan-kiri, hanya disangga kayu bambu. Saya bertukar tatapan dengan sahabat-sahabat saya, dan mereka kompak menggeleng. Mungkin kali ini bukan saatnya, dan saya berdoa dalam hati semoga ada ‘lain-kali’ untuk turun ke bawah.

Fotonya sok oke, aslinya gemeteran sih ini. Kepleset dikit bye gelindingan ke jurang.
Sebagus itu dari atas. Next time, next time~
Peringatan untuk pengunjung. Just know your limits sih kalo mau turun.
Oh ya, saya bertemu dengan gadis kecil cantik saat mengantre spot foto di salah satu sudut Kelingking Beach. Namanya Made kalau saya tidak salah ingat, dan si cantik ini duduk manis di sana membantu neneknya menjaga spot foto tersebut. Dunno why, setiap pergi kemanapun, saya selalu tertarik menyapa anak-anak lokal; menanyakan mereka pergi sekolah atau tidak, sedang bermain apa, atau hanya sekedar menanyakan nama. Made tersenyum malu sembari mengangguk saat saya bertanya tentang sekolahnya, disambut senyum ramah neneknya yang ikut dalam obrolan. For you who have plan to visit Kelingking Beach, don’t forget to meet her, yaa. Anaknya lucu.

Ngobrol sama Made :)
Made: Duh, udah belum ya. Sibuk nih~
Dari Kelingking Beach, kami kembali menyusuri maps. Teringat, ada satu petunjuk arah air terjun di sisi jalan yang kami lewati tadi. Namanya Air Terjun Seganing. Karena hari belum terlalu sore, jadilah kami berbelok mengikuti papan petunjuk arah yang menurut kesotoyan kami tidak terlalu jauh jaraknya. Dengan bermodalkan sapa-tanya sana-sini dengan warga lokal yang kami temui di jalan, sekitar setengah jam perjalanan akhirnya kami tiba di destinasi yang dimaksud. Saling nyengir karena ternyata lokasinya cukup jauh. Disana sepi sekali, hanya ada seorang wanita paruh baya yang duduk di Bale bambu, menunggui parkiran pengunjung. Ada dua tempat yang bisa dikunjungi di sana; satu pura di ujung tebing tempat pengunjung biasanya menunggu matahari terbenam, lalu Air Terjun Seganing di bawah tebing, yang menurut penuturan ibu yang kami temui di Bale, hanya membutuhkan 10 menit trekking ke bawah. Kami saling pandang. Pura di ujung tebing itu jauh sekali letaknya, dan rasanya harus berjalan cukup jauh untuk tiba di sana. Si Ibu dengan senyum ramah merekomendasikan untuk turun ke bawah saja karena air terjunnya bagus, pun sayang sudah tiba disana tapi tidak turun. Dengan bermodal botol air mineral di tangan masing-masing, akhirnya kami turun dengan tenaga yang tersisa hari itu. Lagi-lagi, jalanan turun ke bawah diluar ekspektasi ’10 menit trekking’ kami. Jalanannya curam, terjal dan sempit, hanya cukup untuk satu orang.  Di kiri jalan jurang ke laut lepas membentang, hanya dibatasi dengan pagar bambu yang rapuh. Saya menghela nafas, ingin sekali kembali naik tapi rasanya penasaran dengan apa yang ada di bawah. Semakin ke bawah, rasa penasaran saya berganti resah di dalam hati; ini bagaimana caranya kami trekking naik kembali dengan jalur curam begini? Saya yakin dan percaya, sahabat-sahabat saya pun begitu; terpeta jelas di wajah mereka, pun keluhan yang keluar setiap kali menjejak turun.

Trekking turun ke Seganing Waterfall. Securam itu gils.
Seganing Waterfall dari atas
Gue: Ya Gusti, ini kepleset dikit bye.
Sesampainya di bawah, kami menghela nafas; entah keberapa kali. Air Terjun Seganing, mungkin memang diluar ekspektasi kami; hanya aliran kecil mata air yang mungkin tidak bisa disebut ‘air terjun’. Tapi sekali lagi, kami tidak menyesal turun ke bawah. Meski dengan effort yang lumayan, meski tidak bertemu air terjun yang diharapkan, kami diberi ganti sunset yang menawan dari bawah tebing. And we never meet the sunset we didn’t like, right? Sore itu kami tetap girang, dinaungi langit jingga menawan, menatap optimis jalur naik kembali meski dengan senyum lelah. Menutup perjalanan kami hari itu dengan banyak cerita baru, pengalaman baru.

Ketika akhirnya nyampe~
Sunset di Seganing Waterfall, i couldn't ask more.
Hari ketiga di Nusa Penida, kami berpindah ke sisi barat. Ada Atuh Beach dan Thousand Island dalam list itinerary hari itu. Setelah beristirahat semalam di salah satu homestay menyenangkan di Klungkung, paginya kami menyusuri jalanan Nusa Penida menuju Atuh Beach, dengan siraman panas yang sama dahsyatnya dengan kemarin. Atuh Beach dan Thousand Island lokasinya hampir berdekatan, dengan tipe pantai dan view khas Nusa Penida; tebing-tebing indah dikelilingi hamparan laut biru sepanjang mata memandang. Di lokasi yang sama, ada juga Tree House Batu Molenteng yang bisa dijadikan tempat menikmati view Nusa Penida dari sisi lain. Sayangnya kami tidak sempat mampir karena harus mengejar jadwal kapal kembali ke Denpasar. 

Atuh Beach
Thousand Island-nya Nusa Penida
Sebenarnya, kami diberitahu oleh warga lokal masih banyak sekali spot menawan lain di Nusa Penida yang bisa di kunjungi. Seperti Manta Point; dimana kamu bisa berenang bersama Manta. Maaf, Manta ya, bukan mantan. Satu tempat dimana pengunjung dibawa ke satu spot di laut untuk terjun berenang bertemu Manta. Tapi berhubung saya bukan tipe manusia insang yang betah berlama-lama di air alias bukan jagoannya berenang, jadilah Manta Point dicoret dari itinerary kami, hehe. Ada juga Bukit Teletubbies yang katanya menyuguhi view hamparan bebukitan hijau dan savanna luas yang indah, dan beberapa destinasi lain yang sama menariknya di Nusa Penida. Sayangnya kami hanya punya tiga hari saat itu. Semoga ada lain kali untuk kembali kesana. Semoga kita bisa ke sana sama-sama. Eh.

Selamat jalan-jalan!


Notes for you:
-Biaya fast boat sekali jalan dari Pelabuhan Sanur berkisar 75-100k.
-Harga sewa motor di Nusa Penida berkisar antara 70-100k/hari. Bijaklah dalam menawar harga. :)
-Untuk yang beragama Muslim, ada kampung Muslim yang menyediakan makanan halal yang enak (Ayam Penyet-nya juara!). Saya lupa namanya, tapi tempatnya di daerah pasar dekat ATM BRI (super gajelas ini ya mohon maaf hehe). Tanya sama warga lokal kampung muslim dimana, semua tahu kok.
-Di hari kedua, kami menginap di The Mels Homestay (search via traveloka ada). Hotelnya bagus, pelayanannya juara. Pemiliknya sangat ramah dan membantu sekali. Harga kamar ada di range 400k. Sewa motor di sana juga bisa, hanya 60k/hari (dan kami menyesal baru menemukannya di hari terakhir, haha.)
-Jangan lupa topi, masker penutup mulut/buff, juga pelindung badan lainnya. Kalau menggunakan motor, debunya juga juara.
 



Patah


Patah, sekali.
Tak apa.
Setidaknya masih ada selayang jingga senja; meski hanya semburat.

Patah, dua kali.
Sungguh tak apa.
Setidaknya masih terlihat titik-titik lengkungan pelangi; meski jauh, semu.

Patah, tiga kali.
Haruskah aku yakinkan lagi?
Tak apa jika memang untuk menggapai utuhmu aku harus patah berkali-kali.
Setidaknya ada semesta, penuh rona; meski bukan untuk kita berdua.

-L

Memberi Jarak pada Cinta, dan Kehilangan-kehilangan yang Baik



Hari itu hari Kamis; seingat saya. Saya duduk termangu di satu bandara, menunggu flight pulang yang masih beberapa jam ke depan. Saya duduk; dengan tekanan terbesar di dalam hati yang pernah saya rasakan seumur hidup. Saya baru saja menyelesaikan satu hubungan panjang, memutuskan mengakhirinya; membiarkan segala yang tersusun untuk hari-hari di depan porak poranda. Saya tidak sedikitpun menangis. Hanya diam di sudut salah satu kedai kopi siap saji di ruang tunggu bandara, memesan satu cup besar es latte; hanya sekedar agar saya punya aktivitas saat menunggu, berjaga jangan sampai tangis saya pecah. Hari itu adalah satu hari dimana saya membebaskan kaki berjalan semaunya, tanpa perintah otak, tanpa rencana. Saya meminta supir taksi berkeliling kota, mencari jalan terjauh menuju bandara, membuatnya menunggu saya mampir ke toko buku. Saya suka sekali membaca; tapi tidak pernah membayangkan buku macam apa yang ingin saya baca dalam keadaan seburuk ini. Saya berkeliling rak, lalu menemukan satu judul buku yang membuat hati saya sedikit hangat. Memberi Jarak pada Cinta, dan Kehilangan-kehilangan yang Baik. Saya menggarisbawahi kata-kata ‘kehilangan-kehilangan yang baik saat menyentuh sampulnya. Benarkah kehilangan itu tidak semuanya berwujud rasa buruk?

Saya percaya, setiap orang pasti pernah terluka; dengan kadarnya masing-masing. Parahnya, saya sendiri bahkan tidak tahu seperti apa bentuk luka yang saya (kira) rasakan. Saya tidak menangis, tidak meratap, pun bersendu-sendu; saya hanya tidak bahagia. Saya begitu malu menunjukkannya di permukaan. Atau mungkin bukan, bukan malu. Lebih ke perasaan bingung bentuk luka seperti apa yang harusnya saya tunjukkan saat itu. Kata seseorang, luka itu tidak butuh waktu untuk sembuh. Luka hanya butuh waktu untuk memberi kita jangka, yang mengubah cara kita merasakannya.

Saya membalik lembar buku di tangan, mendongak sesekali ketika supir yang mengemudikan taksi mengajak berbicara. Saya hanya mengangguk, atau mengiyakan sesekali menanggapinya. Buku ini entah mengapa seperti mencetak bulat-bulat apa yang sedang saya rasakan kala itu; tentang keresahan-keresahan yang saya tutup-tutupi di dalam kepala. Falafu; nama yang tertera sebagai penulisnya, entah siapapun orang ini, seperti mengerti dengan sangat baik apa-apa yang tidak bisa saya ‘muntahkan’ pada siapapun saat itu.

Menggenggam tangan yang tidak lagi mau menggenggam kembali hanya akan memberatkan langkah. Hanya akan membuat setiap tarikannya menjadi sesuatu yang begitu melelahkan untuk diperjuangkan.’ (Page 9)

Saya menghela nafas selesai mengeja kalimat ini, sembari memandangi pohon-pohon mungil yang ditanam berjajar di separator jalan dari kaca jendela yang buram. Hati saya kebas; sedih begitu parah hingga tidak bisa lagi merasakan bentuk sedih itu sendiri. Pikiran saya lelah, tidak ingin memikirkan apa-apa, kosong. Supir taksi terus menerus menegur keheningan di dalam kepala saya dengan pertanyaan basa-basi. Saya menjawab sekilas, dengan mata yang masih mencoba lari ke dalam isi buku di tangan. 

Kamu tahu, selama ini aku mencintaimu hingga nyaris kehilangan diriku sendiri.’ (Page 12)

Kalimat ini nyaris meruntuhkan air mata yang sejak semalam bersembunyi rapi. Saya; selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang mengelilingi saya. I always do my best for every single thing that I love. Saya menutup mata, isi kepala saya mulai membawakan ingatan-ingatan 5 tahun kebelakang; hal-hal yang saya lakukan, entah itu saya sukai atau yang saya lakukan bukan karena saya ingin. Saya tidak hanya nyaris kehilangan diri sendiri; saya bahkan rela berputar balik, menutup telinga, tidak peduli.

Dan bagian terburuk dari kesemuanya adalah kamu mampu membuatku terus bertanya-tanya, hal apa yang sudah salah mengalir di dalam diriku sehingga aku pantas dilupakan dengan cara yang begitu buruk.’ (Page 44)

Persis. Saya merasa buruk saat itu. Tidak ingin ditegur, tidak ingin ditanyai apa-apa. Merasa tidak pantas. Merasa ada yang salah. Tapi, bukankah ‘buruk’ itu persepsi? Tuduhan relatif yang bisa saja berubah dari sudut pandang orang lain. Akhirnya saya mengalah saat itu, menutup buku lalu mencoba membuat obrolan dengan pak supir yang sedari tadi juga sudah mencoba membuat obrolan dengan basa-basi ramahnya. Saya bertanya tentang destinasi, orang-orang lokal, juga tentang perjalanan-perjalanan singkat di kota itu. Saya tersenyum pelan, mengiyakan, atau sekedar menanggapi saat beliau mulai banyak bertanya. Hati saya sedikit hangat; benar, buruk itu persepsi. Pak supir tadi tetap memperlakukan saya dengan baik, bertanya dengan santun. Saya tetap adalah diri saya diluar korelasi saya dengan ikatan yang membuat saya runtuh.

Di toilet bandara, saya teringat buku berwarna tiffany blue yang saya genggam saat di taksi tadi, memeriksa daypack yang saya sandang sebelah bahu, dan tidak menemukannya dimana-mana. Tertinggal, sepertinya. Saya baru membaca beberapa lembar awal, lalu menengok-nengok sekilas lembar selanjutnya hingga kebelakang, dan mengingat bagian ini;
Seperti cinta, melupa tak punya rumus yang pasti. Setiap orang berproses dengan caranya masing-masing, karenanya  tidak perlu merasa hebat hanya karena kamu mampu (berpura-pura) melupa lebih dahulu.’ (Page 82)

Saya tersenyum. Buku ini membuat saya merasa bukan satu-satunya orang yang merasakan keresahan-keresahan saat kehilangan terjadi. Sesampainya di rumah, saya membeli satu eksemplar baru lagi. Saya membacanya lambat-lambat, memahami satu-persatu rasa yang coba diurai penulisnya, mengangguk dalam hati setuju hampir untuk semua baris-baris kalimatnya. Entah karena saya merasakan hal yang sama, atau karena harusnya saya juga sebijak itu dalam menghadapi perasaan-perasaan yang menguar saat kehilangan.

Aku tidak akan menjadi seseorang yang berbohong tentang patah hati yang aku rasakan. Karena bagiku, bila kamu benar-benar mencintainya—maka tentu saja kamu selalu memerlukan jeda untuk melupakannya. Tidak ada kesembuhan yang datang dari penyangkalan. Tidak ada cinta yang bisa pergi dari berpura-pura kuat. Karena cinta baru biasanya hadir saat Dia melihat sela di antara lukamu. Kamu yang sempurna, atau yang berpura-pura sempurna, hanya akan mendapat kehampaan.’ (Page 114)

Saya lega saat membaca bagian ini. Benar, tidak ada gunanya menutup-nutupi. Luka, sepahit apapun, saya sudah membiarkannya lepas. Saya sudah melepas tangis yang saya tahan-tahan. Saya sudah mencoba bercerita ketika ditanyai. Saya percaya pada jeda; garis-garis waktu dan jarak yang membawa saya lebih jauh dari kenangan, mengubah cara saya merasakan luka dan menerima kehilangan. Saya juga percaya pada campur tangan orang lain dalam meringankan luka; buku ini contoh kecilnya. Deretan kalimat-kalimat positif yang menenangkan hati, meringankan rasa.

Untuk kalian yang sedang kehilangan; bacalah untuk pembenaran dalam hati ketika tidak ada orang yang ingin kau temui untuk berbagi. :)



Jangan Sampai Runtuh


Kita bertumbuh/

Menapak langkah; tak utuh, mengaduh/

Bermimpi semesta luluh,

menjebak angka; tahun-tahun bergemuruh/

Memeluk jemu, peluh, selalu merasa tak penuh/

Jangan saja sampai isi kepala runtuh.


*ditulis untuk di selipkan pada kado ulangtahun seorang sahabat.

Main Sebentar ke Kerinci; The Arts of The Unknown Places.

Saya pernah membaca, katanya when you travel, you create room for surprises. Dan itu benar. Perjalanan; entah itu jauh atau dekat, lama atau sebentar, sedikit banyak membawa kita pada kejutan-kejutan baru di setiap langkah. Bertemu wajah-wajah baru, menyambangi tempat-tempat baru dengan kearifan lokal yang beragam, menyusuri jalanan di luar ekspektasi, kehujanan, menemukan kuliner dengan cita rasa aneh, tersesat, atau entah apa lagi. Seringkali esensi perjalanan favorit saya justru bukan soal tentang sebagus apa tempat yang akan dituju, tapi cerita-cerita apa saja yang bisa saya rekam dari setiap langkah menuju tempat itu.

Akhir pekan lalu, saya menghabiskan 2 hari sisa libur lebaran bersama sahabat-sahabat kesayangan saya di Kerinci. Ini sudah kali keempat saya mengunjungi kabupaten dengan sebutan ‘sekepal tanah surga yang jatuh ke bumi’ itu. Kabupaten yang terkenal karena si the highest volcano mountain favorit semua orang ada disana: Gunung Kerinci. Selain Gunung Kerinci, banyak sekali mandatory places  yang sering dikunjungi ketika berlibur di Kerinci, mulai dari wisata alam cantik manja tanpa perlu berlelah-lelahan, hingga tempat-tempat bagus yang membutuhkan berjam-jam trekking. Dari hamparan kebun teh Kayu Aro, air terjun Telun Berasap, Bukit Khayangan, Air Panas Semurup, Danau Kerinci, hingga Danau Kaco dan Danau Gunung Tujuh yang mengharuskan kaki mendaki membelah hutan-hutan tropis khas Sumatera.
Honestly, we’d no ideas untuk trip singkat kali ini. Sebagian besar destinasi di Kerinci sudah pernah kami datangi. Juga mengingat kami cuma punya dua hari dan kondisi fisik yang sedang tidak ingin bertrekking-ria. Jadilah malam itu saya, Kak Nedya, Bang Abi dan Septian saling sahut dan saling geleng saat menyusun ulang itinerary bersama. Mencoret beberapa list tujuan yang direncanakan, berteriak “big-no!” saat Kak Nedya mengusulkan tempat-tempat yang terlalu mainstream di Kerinci, yang diakhiri dengan tertawa-tawa bodoh bersama karena setelah berjam-jam, kami tak kunjung menemukan tujuan yang jelas.
Esoknya, dengan mata segaris dan tujuan yang belum yakin entah kemana, akhirnya kami bergegas pergi. Berempat, kami melaju ke arah Kayu Aro yang jaraknya sekitar 2 jam perjalanan darat menggunakan motor. Kak Nedya diberi saran dari teman-teman sesama penggiat traveling di Kerinci untuk mengunjungi satu kawasan wisata baru di daerah Kayu Aro, Rawa Bento namanya. Angin dingin khas pegunungan bercampur hangatnya siraman terik matahari yang menggantung cerah di atas kepala, membuat saya tersenyum lebar hari itu. ‘Kemanapun, sejauh apapun, sesulit apapun; asal bareng kalian, saya siap.’, saya teringat tagline ngaco favorit kami. Berkali-kali kalimat hiperbola itu kami sebut sambil saling melempar tawa, untuk menguatkan hati. Perjalanan absurd siang itu disponsori ketidak-excited-an kami karena belum tahu seperti apa itu Rawa Bento, pun bagaimana caranya sampai kesana. Jadilah siang itu berkali-kali kami berhenti dipinggir jalan; minum blended-ice sampai pusing di kaki Gunung Kerinci saking panasnya, makan bakso yang bentuknya aneh di warung pinggir jalan, dan entah apa lagi. Meski belum jelas akan kemana, dengan perjalanan absurd panas-panasan dengan motor, entah mengapa hati saya tetap riang hari itu. Sekali lagi, traveling bagi saya bukan cuma soal destinasi, tapi apa dan siapa yang saya punya untuk merekam jejak cerita langkah saya.
 
Langit favorit saya siang itu. Mau motoran sejauh apa? Hayok! (Pura-puranya gitu kan, abis ngomong gini digelindingin sama yang bawa motor. Haha)
Kami sampai di Kerinci View Homestay di daerah Desa Pelompek sekitar jam 1 siang. Menurut info teman yang pernah ke Rawa Bento, homestay ini yang nantinya memfasilitasi boat untuk wisatawan menyusuri sungai hingga ke Rawa Bento. Setelah bertanya sana-sini, pun bertanya dengan adik kecil cantik dipinggir jalan dengan jawaban “Ndak bisa, listriknya mati, sudah dikubur.” yang membuat kami saling terkikik geli (she must be a little comic, haha), akhirnya kami mendapati Kerinci View Homestay ini. Sebuah homestay dengan konsep dominan kayu dan bambu berdesign minimalis yang cantik. Di sana kami melakukan registrasi untuk menyewa boat tradisional. Untuk sampai ke Rawa Bento, satu-satunya transportasi yang digunakan hanya boat, karena jalannya menyusuri sepanjang aliran rawa. Satu boat tradisional berkapasitas 10 orang, dengan harga 500K sekali pulang-pergi. Karena kami cuma berempat, jadilah kami ditawari untuk bergabung dengan wisatawan lain agar costnya lebih murah. (Tips for you, jika ingin ke Rawa Bento, berarti harus ramean.) Melihat aliran sungai yang meliuk indah dengan hamparan padang rumput di sisi kiri-kanannya dari atas homestay membuat kami saling pandang girang, it’s gonna be a great journey with traditional boat, yeay! Hati yang awalnya lesu mulai excited. Ditambah pemandangan Desa Pelompek yang kelilingi bukit-bukit hijau berjajar indah dengan latar belakang langit biru sempurna siang itu. Senyum saya mengembang, akhirnya perjalanan absurd bersama sahabat-sabahat absurd ini menemukan titik terang.
Ready for the journey!
Kami turun ke sungai dengan hati riang, menaiki boat yang berisik dan kemudian terkagum-kagum. It was really an unexpected journey for us, to be honest. Karena dari awal kami tidak punya ekspektasi apa-apa tentang Rawa Bento ini, sepanjang jalan wajah kami girang karena perjalanan kurang lebih satu jam menuju Rawa Bento di atas boat tradisional was superb worth. Menyusuri aliran sungai tenang berwarna hitam gelap dengan kiri-kanan di dominasi semak belukar dan hutan belantara bergantian. Kerinci rasa Amazon, teriak saya girang mengimbangi berisiknya suara mesin boat di belakang kami. Kak Nedya, Bang Abi dan Septian mengaminkan, wajah mereka juga terlihat segirang saya. Kadang, pemandangan kiri dan kanan berganti dengan hamparan padang rumput lengkap dengan gerombolan kerbau dan bangau yang beterbangan kesana-kemari. Di sisi pinggir rawa pun banyak terlihat tumbuh bunga-bunga hutan yang cantik, pun juga di tutupi rerimbunan tanaman eceng gondok dan teratai liar yang menyegarkan mata. Saya senang sekali, bernyanyi dalam hati sambil mencelupkan tangan ke dalam air rawa yang beriak di sisi kiri boat. Flirting with nature, literally.

Aliran rawa yang dilatari langit mendung supercantik, plus model mas-mas guide yang lagi bengong di ujung kapal.
Priceless view. Girang!
Setelah kurang lebih satu jam menyusuri aliran rawa, kami akhirnya sampai di Rawa Bento. Rombongan diturunkan di padang rumput luas di pinggiran aliran rawa dengan pemandangan menakjubkan. Ketika sampai, semua meringis kecewa karena titik hujan mulai perlahan turun, makin lama makin deras membuat kami berlarian ke bawah pohon tempat dua hammock sudah terpasang oleh guide yang bertugas mengantarkan kami. Para pria berlarian memasang terpal di bawah pohon untuk melindungi kesepuluh orang yang baru tiba. Saya, Kak Nedya, Bang Abi dan Septian saling pandang sambil tertawa-tawa. Entah mengapa setiap trip bersama kami selalu diakhiri dengan hujan dan berbasah-basahan. Saya mengintip dari balik terpal, sayang sekali rasanya view di sekeliling kami jika harus dilewatkan di bawah hujan deras.



Padang rumput, hutan-hutan tropis, kerbau dan bangau, aliran rawa dengan gemerisik air yang menenangkan, kicau-kicau burung. It was like we trapped in the center of nature, dikelilingi alam bebas yang sesungguhnya tanpa ada distraksi dari dunia luar. Tidak ada jalan pulang selain aliran sungai. Kami saling berdoa, memohon Tuhan menghentikan hujan sebentar saja. Saya bernyanyi merapalkan mantra hujan ketika masih kecil, “Rain, rain just go away. Come again another day..” berkali-kali sambil menampung tetesan air dari terpal dengan telapak tangan. Benar-benar berharap kali ini alam bersahabat dengan kami. Dan benar saja, titik-titik air dari langit akhirnya melambat dan akhirnya hanya berubah gerimis kecil. Membuat kami berlarian keluar terpal dan menikmati Rawa Bento dengan saling melempar tawa. Berpuluh-puluh jepretan, pose absurd tak terhitung saya dan Kak Nedya, terbahak-bahak menonton Bang Abi dan Septian membuat slow-motion video, berlari-lari di atas rumput becek, live post, hingga akhirnya menyerah lelah. Sungguh, Rawa Bento tidak pernah saya bayangkan akan membuat kami sebahagia itu. Quality time, with quality bestfriends in quality place

Rawa Bento.
Dear, Mother Earth.
Kesayangan-kesayangan saya. Partner in crime di gunung, laut, danau, darat, udara, pinggir jalan, seberang sungai, di kota, di desa, hujan, panas, becekan, debuan, seneng, sedih.. *abis mereka baca blog, nanti ini dihapus kok. Haha.
Our all time kinda favorite view.
Absurd, tapi saya sayang.
Hari kedua. Kami masih team yang absurd. Masih bertanya-tanya ingin kemana lagi. Beruntung hari itu kami akhirnya bertemu teman-teman satu komunitas dari Instravelmate Jambi Regional Kerinci, yang dengan baik hati menyarankan beberapa tempat bagus. Namun karena pertimbangan ini-itu dan waktu yang singkat akhirnya kami memilih Danau Lingkat di daerah Lempur untuk menghabiskan hari. Sebenarnya Danau Lingkat ini bukan destinasi baru seperti Rawa Bento, malah tergolong salah satu a-must-visit place di Kerinci. Namun karena letaknya yang agak jauh (sekitar 2 jam perjalanan darat dari Sungai Penuh), dan kondisi sekitar danau yang sepi pun tergolong mistis, Danau Lingkat terdengar agak kalah populer dibanding dengan tempat-tempat wisata lain. But we’re the absurd team, right? Haha. Jadilah kami yang absurd ini memilih kesana, bertemu tempat baru, suasana baru.

Danau Lingkat. (Photo credit: @edwin_ekaputra)
Sampai di Danau Lingkat, i had no bad feeling about this beautiful place. Danau ini tenang sekali, berwarna hijau pekat sempurna dikelilingi hutan Kayu Manis yang menambah kesegaran pemandangannya. Dari awal saya memberitahu Septian, kalau di danau ini tidak boleh berperahu. Saya menceritakan cerita-cerita yang pernah saya dengar tentang Danau Lingkat, tentang ada pengunjung yang tenggelam dan kesan mistis danau hijau ini. Namun entah mengapa, ketika tiba disini, kesan itu seolah hilang. Entah karena saya terlalu menyukai alam, atau karena saya memang anti dengan negative-vibes dari berpikiran buruk tentang sesuatu. Di Danau Lingkat memang tidak boleh menggunakan perahu, kami tidak diberitahu alasannya. Namun pengelola menggantinya dengan rakit bambu dan boat bambu yang hanya boleh dipakai di area tertentu saja di Danau Lingkat, hal ini juga kami tidak diberitahu alasannya. Diantara semua yang ikut ke Danau Lingkat, ketika divote ingin menggunakan rakit atau boat, saya yang paling semangat memilih rakit bambu. It such a new experience for me, karena memang sebelumnya belum pernah menaiki rakit bambu plus dayung tradisionalnya. Tidak ada rasa takut, entah kenapa. Saya terlalu suka mencoba hal-hal baru, a-happy-kid-soul di dalam diri saya selalu ingin tahu, penasaran, ingin mencoba. Siang itu, ketika Kak Nedya dan Rika, dua teman perempuan lain maju takut-takut untuk turun, saya malah berlari turun ke bawah untuk mengantarkan dayung ke teman yang sudah lebih dulu berada di atas rakit. Tanpa kuda-kuda, saya yang hanya berniat mengantarkan dayung, melangkahkan kaki naik ke atas rakit bambu yang masih terparkir di pinggir danau. Berjejer hingga ke rakit tempat teman saya duduk. Saya dengan polosnya melangkah, mungkin tanpa perhitungan layaknya jalan di tanah biasa. Saya melangkah dari satu rakit ke rakit bambu berikutnya, but ya, that day was not my lucky day, ketika kaki kanan saya ada di rakit berikut, rakit tempat kaki kiri saya masih menjejak bergeser menjauh. Jadilah saya kehilangan keseimbangan dan dengan indahnya jatuh ke danau. Well, saya mendapatkan momen kali pertama. Bukan kali pertama naik rakit bambu hari itu, tapi kali pertama jatuh ke danau dengan kepala duluan masuk ke air dan membentur batu di dasar danau. Saya shock, mungkin sahabat-sahabat saya juga. Saya melihat beberapa berlari ke pinggir danau mencoba menolong. Beberapa menyelamatkan kamera yang menggantung di leher saya, handphone, tas, kacamata, tapi saya tetap di tempat. Masih shock. Saya basah sekujur badan, mendapat luka di dahi dan di pangkal hidung, kedinginan dan tidak membawa baju ganti, tapi ketika ditanya mau lanjut mengeksplor atau pulang, saya berteriak ingin tetap lanjut. Dari dulu, saya selalu percaya, dari setiap hal-hal buruk yang saya alami, akan selalu menyusul balasan hal-hal luar biasa yang diganti Tuhan dengan sangat baik hati. Setelah setiap kejadian buruk, saya tidak ingin mematikan positive-vibes yang ada di sekeliling saya. Saya tersenyum, melangkah dengan baju basah kuyup, akhirnya ikut naik boat bambu yang lebih aman, ikut trekking menyusuri setapak menuju sisi danau bagian lain, masih dengan wajah hore berpose bersama sahabat-sahabat saya.
Abis jatuh ke danau, kebentur batu, luka-luka, tapi posenya masih se-happy itu. Haha. Thanks for beautiful shot, Bang @edwin_ekaputra!
Danau Lingkat dari sisi lain. (Photo credit: @edwin_ekaputra)
Bareng Instravelmate Jambi Regional Kerinci. Thanks Bang Edwin, Bang Alex, Samsul & Rika for accompany-ing us!
Meski basah, kedinginan, kepala perih dan hati yang sedih karena kamera kesayangan saya mati, saya tetap bisa tersenyum lebar, riang. Ada sahabat-sahabat kesayangan saya mengelilingi, ada alam yang luar bisa indah menaungi. Lagi-lagi, ini perjalanan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Mengalami ini-itu dalam sepersekian detik, jatuh; tapi bisa survive menyelesaikan hari. Perjalanan terakhir ini mengajarkan saya begitu banyak hal baru, memahami langkah-langkah sendiri, mensyukuri apa yang saya punya. When you travel, you’ll discover that you’re not nearly as smart as you thought, seriously. Berjalanlah sedikit lebih jauh, dan kemudian belajarlah.

Selamat jalan-jalan. Semoga bertemu di satu perjalanan lain!

-Lanny