Jangan Sampai Runtuh


Kita bertumbuh/

Menapak langkah; tak utuh, mengaduh/

Bermimpi semesta luluh,

menjebak angka; tahun-tahun bergemuruh/

Memeluk jemu, peluh, selalu merasa tak penuh/

Jangan saja sampai isi kepala runtuh.


*ditulis untuk di selipkan pada kado ulangtahun seorang sahabat.

Main Sebentar ke Kerinci; The Arts of The Unknown Places.

Saya pernah membaca, katanya when you travel, you create room for surprises. Dan itu benar. Perjalanan; entah itu jauh atau dekat, lama atau sebentar, sedikit banyak membawa kita pada kejutan-kejutan baru di setiap langkah. Bertemu wajah-wajah baru, menyambangi tempat-tempat baru dengan kearifan lokal yang beragam, menyusuri jalanan di luar ekspektasi, kehujanan, menemukan kuliner dengan cita rasa aneh, tersesat, atau entah apa lagi. Seringkali esensi perjalanan favorit saya justru bukan soal tentang sebagus apa tempat yang akan dituju, tapi cerita-cerita apa saja yang bisa saya rekam dari setiap langkah menuju tempat itu.

Akhir pekan lalu, saya menghabiskan 2 hari sisa libur lebaran bersama sahabat-sahabat kesayangan saya di Kerinci. Ini sudah kali keempat saya mengunjungi kabupaten dengan sebutan ‘sekepal tanah surga yang jatuh ke bumi’ itu. Kabupaten yang terkenal karena si the highest volcano mountain favorit semua orang ada disana: Gunung Kerinci. Selain Gunung Kerinci, banyak sekali mandatory places  yang sering dikunjungi ketika berlibur di Kerinci, mulai dari wisata alam cantik manja tanpa perlu berlelah-lelahan, hingga tempat-tempat bagus yang membutuhkan berjam-jam trekking. Dari hamparan kebun teh Kayu Aro, air terjun Telun Berasap, Bukit Khayangan, Air Panas Semurup, Danau Kerinci, hingga Danau Kaco dan Danau Gunung Tujuh yang mengharuskan kaki mendaki membelah hutan-hutan tropis khas Sumatera.
Honestly, we’d no ideas untuk trip singkat kali ini. Sebagian besar destinasi di Kerinci sudah pernah kami datangi. Juga mengingat kami cuma punya dua hari dan kondisi fisik yang sedang tidak ingin bertrekking-ria. Jadilah malam itu saya, Kak Nedya, Bang Abi dan Septian saling sahut dan saling geleng saat menyusun ulang itinerary bersama. Mencoret beberapa list tujuan yang direncanakan, berteriak “big-no!” saat Kak Nedya mengusulkan tempat-tempat yang terlalu mainstream di Kerinci, yang diakhiri dengan tertawa-tawa bodoh bersama karena setelah berjam-jam, kami tak kunjung menemukan tujuan yang jelas.
Esoknya, dengan mata segaris dan tujuan yang belum yakin entah kemana, akhirnya kami bergegas pergi. Berempat, kami melaju ke arah Kayu Aro yang jaraknya sekitar 2 jam perjalanan darat menggunakan motor. Kak Nedya diberi saran dari teman-teman sesama penggiat traveling di Kerinci untuk mengunjungi satu kawasan wisata baru di daerah Kayu Aro, Rawa Bento namanya. Angin dingin khas pegunungan bercampur hangatnya siraman terik matahari yang menggantung cerah di atas kepala, membuat saya tersenyum lebar hari itu. ‘Kemanapun, sejauh apapun, sesulit apapun; asal bareng kalian, saya siap.’, saya teringat tagline ngaco favorit kami. Berkali-kali kalimat hiperbola itu kami sebut sambil saling melempar tawa, untuk menguatkan hati. Perjalanan absurd siang itu disponsori ketidak-excited-an kami karena belum tahu seperti apa itu Rawa Bento, pun bagaimana caranya sampai kesana. Jadilah siang itu berkali-kali kami berhenti dipinggir jalan; minum blended-ice sampai pusing di kaki Gunung Kerinci saking panasnya, makan bakso yang bentuknya aneh di warung pinggir jalan, dan entah apa lagi. Meski belum jelas akan kemana, dengan perjalanan absurd panas-panasan dengan motor, entah mengapa hati saya tetap riang hari itu. Sekali lagi, traveling bagi saya bukan cuma soal destinasi, tapi apa dan siapa yang saya punya untuk merekam jejak cerita langkah saya.
 
Langit favorit saya siang itu. Mau motoran sejauh apa? Hayok! (Pura-puranya gitu kan, abis ngomong gini digelindingin sama yang bawa motor. Haha)
Kami sampai di Kerinci View Homestay di daerah Desa Pelompek sekitar jam 1 siang. Menurut info teman yang pernah ke Rawa Bento, homestay ini yang nantinya memfasilitasi boat untuk wisatawan menyusuri sungai hingga ke Rawa Bento. Setelah bertanya sana-sini, pun bertanya dengan adik kecil cantik dipinggir jalan dengan jawaban “Ndak bisa, listriknya mati, sudah dikubur.” yang membuat kami saling terkikik geli (she must be a little comic, haha), akhirnya kami mendapati Kerinci View Homestay ini. Sebuah homestay dengan konsep dominan kayu dan bambu berdesign minimalis yang cantik. Di sana kami melakukan registrasi untuk menyewa boat tradisional. Untuk sampai ke Rawa Bento, satu-satunya transportasi yang digunakan hanya boat, karena jalannya menyusuri sepanjang aliran rawa. Satu boat tradisional berkapasitas 10 orang, dengan harga 500K sekali pulang-pergi. Karena kami cuma berempat, jadilah kami ditawari untuk bergabung dengan wisatawan lain agar costnya lebih murah. (Tips for you, jika ingin ke Rawa Bento, berarti harus ramean.) Melihat aliran sungai yang meliuk indah dengan hamparan padang rumput di sisi kiri-kanannya dari atas homestay membuat kami saling pandang girang, it’s gonna be a great journey with traditional boat, yeay! Hati yang awalnya lesu mulai excited. Ditambah pemandangan Desa Pelompek yang kelilingi bukit-bukit hijau berjajar indah dengan latar belakang langit biru sempurna siang itu. Senyum saya mengembang, akhirnya perjalanan absurd bersama sahabat-sabahat absurd ini menemukan titik terang.
Ready for the journey!
Kami turun ke sungai dengan hati riang, menaiki boat yang berisik dan kemudian terkagum-kagum. It was really an unexpected journey for us, to be honest. Karena dari awal kami tidak punya ekspektasi apa-apa tentang Rawa Bento ini, sepanjang jalan wajah kami girang karena perjalanan kurang lebih satu jam menuju Rawa Bento di atas boat tradisional was superb worth. Menyusuri aliran sungai tenang berwarna hitam gelap dengan kiri-kanan di dominasi semak belukar dan hutan belantara bergantian. Kerinci rasa Amazon, teriak saya girang mengimbangi berisiknya suara mesin boat di belakang kami. Kak Nedya, Bang Abi dan Septian mengaminkan, wajah mereka juga terlihat segirang saya. Kadang, pemandangan kiri dan kanan berganti dengan hamparan padang rumput lengkap dengan gerombolan kerbau dan bangau yang beterbangan kesana-kemari. Di sisi pinggir rawa pun banyak terlihat tumbuh bunga-bunga hutan yang cantik, pun juga di tutupi rerimbunan tanaman eceng gondok dan teratai liar yang menyegarkan mata. Saya senang sekali, bernyanyi dalam hati sambil mencelupkan tangan ke dalam air rawa yang beriak di sisi kiri boat. Flirting with nature, literally.

Aliran rawa yang dilatari langit mendung supercantik, plus model mas-mas guide yang lagi bengong di ujung kapal.
Priceless view. Girang!
Setelah kurang lebih satu jam menyusuri aliran rawa, kami akhirnya sampai di Rawa Bento. Rombongan diturunkan di padang rumput luas di pinggiran aliran rawa dengan pemandangan menakjubkan. Ketika sampai, semua meringis kecewa karena titik hujan mulai perlahan turun, makin lama makin deras membuat kami berlarian ke bawah pohon tempat dua hammock sudah terpasang oleh guide yang bertugas mengantarkan kami. Para pria berlarian memasang terpal di bawah pohon untuk melindungi kesepuluh orang yang baru tiba. Saya, Kak Nedya, Bang Abi dan Septian saling pandang sambil tertawa-tawa. Entah mengapa setiap trip bersama kami selalu diakhiri dengan hujan dan berbasah-basahan. Saya mengintip dari balik terpal, sayang sekali rasanya view di sekeliling kami jika harus dilewatkan di bawah hujan deras.



Padang rumput, hutan-hutan tropis, kerbau dan bangau, aliran rawa dengan gemerisik air yang menenangkan, kicau-kicau burung. It was like we trapped in the center of nature, dikelilingi alam bebas yang sesungguhnya tanpa ada distraksi dari dunia luar. Tidak ada jalan pulang selain aliran sungai. Kami saling berdoa, memohon Tuhan menghentikan hujan sebentar saja. Saya bernyanyi merapalkan mantra hujan ketika masih kecil, “Rain, rain just go away. Come again another day..” berkali-kali sambil menampung tetesan air dari terpal dengan telapak tangan. Benar-benar berharap kali ini alam bersahabat dengan kami. Dan benar saja, titik-titik air dari langit akhirnya melambat dan akhirnya hanya berubah gerimis kecil. Membuat kami berlarian keluar terpal dan menikmati Rawa Bento dengan saling melempar tawa. Berpuluh-puluh jepretan, pose absurd tak terhitung saya dan Kak Nedya, terbahak-bahak menonton Bang Abi dan Septian membuat slow-motion video, berlari-lari di atas rumput becek, live post, hingga akhirnya menyerah lelah. Sungguh, Rawa Bento tidak pernah saya bayangkan akan membuat kami sebahagia itu. Quality time, with quality bestfriends in quality place

Rawa Bento.
Dear, Mother Earth.
Kesayangan-kesayangan saya. Partner in crime di gunung, laut, danau, darat, udara, pinggir jalan, seberang sungai, di kota, di desa, hujan, panas, becekan, debuan, seneng, sedih.. *abis mereka baca blog, nanti ini dihapus kok. Haha.
Our all time kinda favorite view.
Absurd, tapi saya sayang.
Hari kedua. Kami masih team yang absurd. Masih bertanya-tanya ingin kemana lagi. Beruntung hari itu kami akhirnya bertemu teman-teman satu komunitas dari Instravelmate Jambi Regional Kerinci, yang dengan baik hati menyarankan beberapa tempat bagus. Namun karena pertimbangan ini-itu dan waktu yang singkat akhirnya kami memilih Danau Lingkat di daerah Lempur untuk menghabiskan hari. Sebenarnya Danau Lingkat ini bukan destinasi baru seperti Rawa Bento, malah tergolong salah satu a-must-visit place di Kerinci. Namun karena letaknya yang agak jauh (sekitar 2 jam perjalanan darat dari Sungai Penuh), dan kondisi sekitar danau yang sepi pun tergolong mistis, Danau Lingkat terdengar agak kalah populer dibanding dengan tempat-tempat wisata lain. But we’re the absurd team, right? Haha. Jadilah kami yang absurd ini memilih kesana, bertemu tempat baru, suasana baru.

Danau Lingkat. (Photo credit: @edwin_ekaputra)
Sampai di Danau Lingkat, i had no bad feeling about this beautiful place. Danau ini tenang sekali, berwarna hijau pekat sempurna dikelilingi hutan Kayu Manis yang menambah kesegaran pemandangannya. Dari awal saya memberitahu Septian, kalau di danau ini tidak boleh berperahu. Saya menceritakan cerita-cerita yang pernah saya dengar tentang Danau Lingkat, tentang ada pengunjung yang tenggelam dan kesan mistis danau hijau ini. Namun entah mengapa, ketika tiba disini, kesan itu seolah hilang. Entah karena saya terlalu menyukai alam, atau karena saya memang anti dengan negative-vibes dari berpikiran buruk tentang sesuatu. Di Danau Lingkat memang tidak boleh menggunakan perahu, kami tidak diberitahu alasannya. Namun pengelola menggantinya dengan rakit bambu dan boat bambu yang hanya boleh dipakai di area tertentu saja di Danau Lingkat, hal ini juga kami tidak diberitahu alasannya. Diantara semua yang ikut ke Danau Lingkat, ketika divote ingin menggunakan rakit atau boat, saya yang paling semangat memilih rakit bambu. It such a new experience for me, karena memang sebelumnya belum pernah menaiki rakit bambu plus dayung tradisionalnya. Tidak ada rasa takut, entah kenapa. Saya terlalu suka mencoba hal-hal baru, a-happy-kid-soul di dalam diri saya selalu ingin tahu, penasaran, ingin mencoba. Siang itu, ketika Kak Nedya dan Rika, dua teman perempuan lain maju takut-takut untuk turun, saya malah berlari turun ke bawah untuk mengantarkan dayung ke teman yang sudah lebih dulu berada di atas rakit. Tanpa kuda-kuda, saya yang hanya berniat mengantarkan dayung, melangkahkan kaki naik ke atas rakit bambu yang masih terparkir di pinggir danau. Berjejer hingga ke rakit tempat teman saya duduk. Saya dengan polosnya melangkah, mungkin tanpa perhitungan layaknya jalan di tanah biasa. Saya melangkah dari satu rakit ke rakit bambu berikutnya, but ya, that day was not my lucky day, ketika kaki kanan saya ada di rakit berikut, rakit tempat kaki kiri saya masih menjejak bergeser menjauh. Jadilah saya kehilangan keseimbangan dan dengan indahnya jatuh ke danau. Well, saya mendapatkan momen kali pertama. Bukan kali pertama naik rakit bambu hari itu, tapi kali pertama jatuh ke danau dengan kepala duluan masuk ke air dan membentur batu di dasar danau. Saya shock, mungkin sahabat-sahabat saya juga. Saya melihat beberapa berlari ke pinggir danau mencoba menolong. Beberapa menyelamatkan kamera yang menggantung di leher saya, handphone, tas, kacamata, tapi saya tetap di tempat. Masih shock. Saya basah sekujur badan, mendapat luka di dahi dan di pangkal hidung, kedinginan dan tidak membawa baju ganti, tapi ketika ditanya mau lanjut mengeksplor atau pulang, saya berteriak ingin tetap lanjut. Dari dulu, saya selalu percaya, dari setiap hal-hal buruk yang saya alami, akan selalu menyusul balasan hal-hal luar biasa yang diganti Tuhan dengan sangat baik hati. Setelah setiap kejadian buruk, saya tidak ingin mematikan positive-vibes yang ada di sekeliling saya. Saya tersenyum, melangkah dengan baju basah kuyup, akhirnya ikut naik boat bambu yang lebih aman, ikut trekking menyusuri setapak menuju sisi danau bagian lain, masih dengan wajah hore berpose bersama sahabat-sahabat saya.
Abis jatuh ke danau, kebentur batu, luka-luka, tapi posenya masih se-happy itu. Haha. Thanks for beautiful shot, Bang @edwin_ekaputra!
Danau Lingkat dari sisi lain. (Photo credit: @edwin_ekaputra)
Bareng Instravelmate Jambi Regional Kerinci. Thanks Bang Edwin, Bang Alex, Samsul & Rika for accompany-ing us!
Meski basah, kedinginan, kepala perih dan hati yang sedih karena kamera kesayangan saya mati, saya tetap bisa tersenyum lebar, riang. Ada sahabat-sahabat kesayangan saya mengelilingi, ada alam yang luar bisa indah menaungi. Lagi-lagi, ini perjalanan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Mengalami ini-itu dalam sepersekian detik, jatuh; tapi bisa survive menyelesaikan hari. Perjalanan terakhir ini mengajarkan saya begitu banyak hal baru, memahami langkah-langkah sendiri, mensyukuri apa yang saya punya. When you travel, you’ll discover that you’re not nearly as smart as you thought, seriously. Berjalanlah sedikit lebih jauh, dan kemudian belajarlah.

Selamat jalan-jalan. Semoga bertemu di satu perjalanan lain!

-Lanny   

Explore Merangin (Part 2) - Dari Menyapa Alam Jangkat Hingga Mengarungi Jeram Geopark Merangin

Blog post ini ditulis dalam kesempatan merayakan Anniversary Komunitas Instravelmate Jambi.

Mari bicara tentang perjalanan bersama dengan hiruk-pikuk puluhan kepala. Puluhan ide dan ego yang kadang saling bentur, namun tetap membawa hangat di hati. Satu sore, entah mengapa saya teringat pada satu folder dokumentasi perjalanan yang biasanya jarang sekali saya cek lagi sepulang trip. Isinya warna-warni; mulai dari potret jalan darat, taman bunga, air terjun, hingga perahu karet arung jeram dengan label ‘Instravelmate Jambi-Merangin Trip’. Saya tersenyum membaca judulnya. Senang dan antusias. Dua hal yang saya rasakan saat pertama kali ide jalan-jalan bersama di Merangin ini digagas di grup komunitas. Instravelmate Jambi; komunitas yang hampir setahun belakangan ini meramaikan notifikasi WhatsApp dan jam-jam lepas akhir pekan saya. Berangkat dari passion yang sama pada traveling, saya bertemu wajah-wajah baru di sini. Mulai dari isi anggota grup hanya enam orang, hingga sekarang berjumlah puluhan. Yang awalnya hanya sharing flatform tentang akan traveling kemana, melakukan apa, juga tempat mengobrol ngalur-ngidul tentang perjalanan impian masing-masing, sekarang jadi wadah bercengkrama dalam skala besar yang lebih intens; sebuah komunitas. Bertemu orang-orang baru yang memiliki kegemaran yang sama pada jalan-jalan dan eksplorasi, saling bertukar cerita perjalanan, menyusun jadwal traveling bersama, hangout bersama; hingga akhirnya mereka yang awalnya asing, lantas tidak lagi terasa asing. Saya bertemu banyak kepala, dengan latar belakang pekerjaan dan life-basic yang berbeda-beda, rentang umur yang berbeda, dengan ide-ide luar biasa yang berbeda pula. Seketika hari-hari saya ‘ramai’. Bukan bicara soal ratusan notifikasi chat grup yang saya terima setiap kali menggeser layar unlock di handphone, atau tentang banyaknya teman yang saya temui ketika sesi meet-up. Ramai; sejak bertemu dengan teman-teman luar biasa di Instravelmate Jambi ini, kepala dan hati saya terus melaju dengan rasa-rasa baru, tidak berhenti menyusun rencana-rencana perjalanan lain di depan, juga excited untuk kembali bertemu dengan mereka, even hanya untuk duduk ngopi sebentar. Mereka yang awalnya asing, kemudian menempati begitu banyak ruang dalam hari-hari saya; erat dan hangat.

Sudah lama sekali rasanya saya tidak melakukan perjalanan beramai-ramai, jadi saya begitu antusias ketika gagasan Jelajah Merangin with IJ akhirnya direalisasikan dengan jumlah peserta trip yang membludak; 33 orang. Merangin memang sedang menjadi tujuan potensial pariwisata Jambi belakangan ini. Dikembangkannya Hesti’s Garden, kawasan Geopark Air Batu, juga ditemukannya wisata-wisata alam baru seperti Telago Biru membuat Merangin makin sering diperbincangkan hangat di kalangan penggiat traveling. Saya excited, penasaran seperti apa rasanya beramai-ramai berkumpul melakukan perjalanan bersama. Saya tidak hanya mengosongkan memori kamera untuk menampung tangkapan potret perjalanan kami, tetapi juga mengosongkan hati; bersiap merekam cerita-cerita perjalanan, yang saya yakin akan luar biasa. Berpuluh kepala dengan banyak tujuan dan cara menikmati alam, it’s gonna be a superb great trip!

Hari pertama, itinerary perjalanan kami ditujukan ke kawasan Jangkat; yang terkenal akan udara bersih khas dataran tinggi. Selain Hesti’s Garden, saya mendapati Danau Pauh, Air Terjun Dukun Batuah dan Air Terjun Sigerincing masuk dalam list itinerary hari itu. Pagi itu kami bangun di rumah seorang teman yang dengan baik hati mau menampung puluhan orang yang rusuh sana-sini ini. Mulai dari sarapan bersama, saling mengingatkan untuk makan pagi meski sedikit, saling melempar lelucon ejekan saat makan, rebutan kamar mandi, saling gedor mengganggu saat ada yang sedang buang air, dan banyak hal random lainnya, membuat pagi itu begitu hangat. Wajah-wajah kami bersemangat. Kami bukan lagi individu dengan kepentingan masing-masing, pagi itu kami selayaknya keluarga. Tanpa ikatan, hubungan darah, namun satu sama lain saling mengerti maklum dan berbagi. Saya menatap satu persatu wajah teman-teman kala itu, lalu tersenyum. Perbedaan di antara kami; umur, latar belakang, passion pun guratan ego di mata, seketika lebur tanpa bekas.

3 jam perjalanan Bangko – Jangkat kami lewati dengan tertawa sana-sini, mengobrol panjang lebar dengan cekikikan, tetap hangat dan riang meskipun harus bersempit-sempitan di mobil, bernyanyi-nyanyi bersama, hingga akhirnya excited saling membuka kaca jendela mobil saat udara segar Jangkat mulai terasa. Kami merentangkan tangan keluar jendela, merasakan angin dingin menelusup cepat lewat jari-jemari yang antusias. Pemandangan desa-desa di kiri-kanan jalan menuju Desa Muara Madras tempat Hesti’s Garden berada, sayang rasanya jika hanya dilewatkan dengan tidur. Setiap halaman rumah-rumah sederhana yang kami lewati di pinggir jalan, semuanya ditumbuhi rerimbunan taman bunga cantik beragam warna, membuat mata bersemangat menjelajah kiri-kanan, terkagum-kagum gemas. Hingga tiba di Hesti’s Garden pun, kami masih saling melempar senyum senang, tanpa lelah sedikitpun. Berlarian masuk ke kawasan taman, dan mulai sibuk mengabadikan momen. Actually, ini sudah ketiga kalinya saya mengunjungi Hesti’s Garden. Tapi bersama mereka, bagi saya tujuan yang sama pun akan terasa begitu berbeda. Selalu hangat dan penuh cerita; manis, meski kadang ada yang sengaja menyebalkan. Berjalan beriringan bersama puluhan pribadi, bohong besar jika selalu lancar-lancar saja. Satu-dua ego berbenturan saat traveling; si ini ingin kesini, si itu maunya ini, si ini tidak pernah ontime, dan seterusnya. Tapi itulah yang akhirnya jadi bagian favorit saya. Ketika semua orang menekan ego dihati masing-masing. Tidak suka, tetapi berusaha menerima. Tidak bisa, tetapi terus mencari jalan agar menjadi bisa. What’s sweeter than it?

Mengeksplorasi cantiknya Hesti's Garden, everybody happy.

Pose wajib; foto ramean pegang spanduk kebangsaan IJ.
Setelah bunyi shutter kamera di sana-sini, berbagai pose bergerombol maupun sendiri di petak-petak rimbunan bunga, mengelilingi taman dari satu ujung ke ujung lain, akhirnya semua dipanggil turun. Tujuan kami selanjutnya mengunjungi satu spot air terjun di Desa Rantau Suli, Air Terjun Dukun Batuah namanya. Satu dari sekian banyak wisata air terjun di daerah Jangkat, pun terhitung paling tinggi dan memiliki debit air yang paling besar. Dari Hesti’s Garden, jaraknya sekitar setengah jam perjalanan menggunakan mobil, ditambah sekitar 10-15 menit trekking di jalan tanah menuju air terjun. Air terjun ini terbilang kurang populer jika dibandingkan dengan Air Terjun Sigerincing yang lebih dulu dikembangkan. Mungkin karena akses yang jauh, pun sarana dan fasilitas tempat wisata yang masih minim. Untuk menjangkau air terjun, kami harus menuruni puluhan anak tangga curam yang licin terkena bias air terjun yang begitu deras. Semua melangkah pelan-pelan, saling pegang dan saling menyodorkan bahu (bukan untuk bersandar sih ya, catat, tapi untuk penahan agar yang turun satu anak tangga di atasnya tidak terpeleset. Haha). Sejujurnya Air Terjun Dukun Batuah ini bagus sekali, masih asri dikelilingi rerimbunan hutan dan rerimbunan bambu hijau yang menyegarkan mata. Namun debit air yang besar kala itu membuat kami sulit untuk menjangkau sisi bawah air terjun. Saya juga sulit mengeluarkan kamera karena bias air di mana-mana (note for you, kalau mau mengunjungi air terjun ini, bawalah kamera waterproof atau pelindung gadget). Hari itu, kami makan siang di sana. Karena tidak ada tempat untuk duduk, jadilah kami bertigapuluh-tiga memanfaatkan anak-anak tangga untuk duduk makan bersama. Berjejer dari bawah ke atas, beralaskan dedaunan atau batang kayu yang kami dapat dari hutan bambu di sisi kiri dan kanan tangga, semua makan bersama. Tidak mewah, jelas. Melahap nasi bungkus bersama di anak tangga yang semennya sudah menyatu dengan tanah karena sudah rusak, menyuap dengan tangan langsung, dihujani bias-bias air terjun di wajah, dikelilingi hutan bambu dan udara segar, plus suara air terjun yang menenangkan hati. Makan kami jauh dari mewah, tapi pengalamannya jelas tidak terbayar.

Ramean di tangga; sibuk masing-masing nyari posisi buat makan.
Jarak aman saya mengambil potret Dukun Batuah hari itu tanpa harus basah. Haha jauh.
Selesai makan siang, gerimis mulai turun berkolaborasi dengan percikan bias air terjun. Makin lama makin deras membuat kami bergegas naik, kembali menapaki puluhan anak tangga licin yang curam, yang kali ini posisinya harus didaki. Nafas saya tersengal, tapi tetap berusaha berlari naik agar tidak kehujanan. Tangan-tangan teman yang lebih dulu naik terulur membantu satu persatu melewati tangga. Hujan menderas, sementara kami tidak punya tempat berlindung dan harus trekking lumayan jauh untuk sampai ke parkiran mobil. Jadilah kami semua pasrah, tidak punya pilihan lain selain membiarkan hujan membasahi badan. Saya tersenyum, menengadahkan wajah ke langit, merentangkan tangan. Girang merasakan guyuran air hujan langsung tanpa khawatir sakit, tanpa takut basah. Teman-teman yang lain juga sama girangnya, menikmati hujan dengan antusiasme masing-masing. Kami berlarian di atas lumpur dan becek layaknya anak kecil. Tertawa-tawa dan berteriak riang, saling menginjak genangan lumpur agar terciprat ke teman yang berjalan di depan. Seakan belum puas, beberapa teman bahkan berkejar-kejaran menendang genangan air agar cipratannya lebih besar. Siang itu saya tertawa lepas sekali; lupa kapan terakhir saya tertawa selepas itu. Bersama mereka, bahagia saya nyata sesederhana itu. Berlarian di bawah hujan, dalam perjalanan menyenangkan, dikelilingi teman-teman terbaik. One of best days in my life.

Kami mampir di Danau Pauh dan Air Terjun Sigerincing sepulang dari Desa Rantau Suli, berhenti sebentar dengan pakaian basah kuyup sekujur badan, tetapi dengan senyum yang tetap mengembang di wajah. Sayangnya saya tidak ikut turun sore itu karena suhu badan mulai naik, membiarkan teman-teman menyesap kenangan dengan memorinya sendiri. Menonton mereka dari jauh, bercengkrama menyapa alam dengan intuisi masing-masing. Indah. Hari itu, tidak terhitung berapa kali saya tersenyum. Lepas.

Esok harinya agenda kami hanya satu: RAFTING. And i superb excited for this one. Ini akan jadi pengalaman pertama saya mencoba arung jeram. Takut? Sedikit. Tapi rasa penasaran saya jelas lebih besar. Menyusuri jeram-jeram sungai Batang Merangin bersama; bukan bicara perkara nyali masing-masing, tapi tentang berusaha saling melindungi satu sama lain. Beberapa mengeluh takut perahu terbalik, tidak bisa berenang; beberapa yang lain menguatkan, memberi motivasi dan meyakinkan. Hingga beberapa teman yang awalnya tidak berencana ikut rafting, akhirnya memantapkan kaki menaiki perahu karet karena tidak ingin ketinggalan momen. Rencananya kami akan mencoba rafting di kawasan Geopark Merangin, Desa Air Batu. Jaraknya kurang lebih sekitar 2 jam perjalanan darat dari kota Bangko. Hari itu kami dibagi menjadi dua sesi team, dengan jarak tempuh mengarungi jeram sekitar satu jam dari titik awal perahu di turunkan di sungai. Saya kebetulan mendapat giliran di sesi kedua, menaiki perahu bersama Riezha, Iqbal dan Uli. Tiga-tiganya masih jauh lebih muda ketimbang saya, dengan ekspresi penuh semangat dan wajah gembira yang menenangkan hati. Gembira. Kunci kita berinteraksi dengan alam. Gembira yang tulus dari hati akan mengeluarkan getaran positif dari dalam diri, lalu menularkannya ke segala hal yang mengelilingi kita. Bergembiralah, maka semesta akan berkonspirasi untuk membawamu ke tempat-tempat baik, bertemu dengan orang-orang baik, kata seseorang pada saya di suatu waktu. And i noted it well. Meskipun juga sedikit takut karena belum punya pengalaman sama sekali tentang rafting, saya percaya perjalanan kami kali ini akan baik-baik saja.

Sebagian kecil team rafting; pose di pemukiman Desa Air Batu, tempat titik awal perahu diturunkan.
Setelah di briefing oleh guide, yang awalnya takut jadi super antusias.
Perahu karet pertama yang meluncur menyusuri jeram. SERU!
Get ready for the journey ahead.
Ketika life-jacket sudah terpasang, kami berdoa; memejamkan mata dan menundukkan kepala memohon agar ini menjadi pengalaman baik untuk kami semua. Ketika perahu karet meluncur, i dunno how to tell you what exactly i felt, tapi senyum saya mengembang. Rasanya seperti anak kecil yang girang menaiki carrousel atau mendapat cotton-candy. SE-NANG. Saya berteriak ketika perahu karet melewati jeram pertama, sukses menciprati kami air sungai yang debit airnya lumayan besar. Saya mendengar pekik girang dari beberapa teman perempuan di perahu karet di belakang. Semua wajah melebarkan senyum. Selepas jeram pertama, kami melongok sekali lagi ke belakang, memandang histeris satu perahu lain terbalik ketika melewati jeram. Beruntung isinya seluruhnya laki-laki. Saya bertanya-tanya dalam hati, apa ada teman yang terluka atau cidera ketika terlempar ke sungai dengan arus sederas itu. Perahu melambat, cemas menunggu team dari perahu yang terbalik menyusul. Ketika mereka akhirnya mendekat, wajah khawatir kami mereka sambut dengan teriakan: “ASIK, GUYS! SUPER SERU!”. Saya menghela nafas, thanks God, they’re safe. Beberapa bahkan ketagihan minta agar perahu karet mereka sengaja didayung ke jeram-jeram yang besar agar terbalik lagi. Once again, susah mendeskripsikan bagaimana rasanya, tapi memang seseru itu ketika perahu karet menghantam melewati jeram, membuat pegangan kami menguat dan terlonjak-lonjak. I love that feeling, berteriak lepas sambil berbaur intens dengan alam bebas. Saat mengarungi jeram, sepanjang kiri kanan aliran sungai kami bisa melihat hutan-hutan tropis yang asri, kicauan burung. Beberapa kali perahu melambat ketika melewati fosil-fosil di sisian sungai, seakan tidak cukup menambah takjub kami hari itu. We really enjoyed every moment that time. Ketika perahu memasuki aliran sungai yang sedikit tenang, kami semua dikomando untuk meloncat ke air oleh guide. Saya menoleh kiri-kanan, rekan-rekan satu perahu saya menyambutnya riang. Satu persatu mengencangkan ikatan life-jacket mereka lalu tanpa ba-bi-bu langsung menceburkan diri ke sungai. Saya melongo, tapi kemudian ikut meloncat juga. Entah terlalu kaget, atau terlalu senang. Menceburkan diri beramai-ramai ke sungai Batang Merangin yang debit airnya tidak bisa dibilang kecil is a big deal, but saya tidak sedikitpun takut saking bahagianya mendapatkan pengalaman itu. “Ga perlu berenang, tenang aja dan kalian akan dibawa arus.”, saya dengar guide kami berseru. Senyum saya selebar pipi. Super antusias menikmati aliran sungai yang membawa kami hingga akhirnya kami ditarik naik lagi ke atas perahu karet saat arus kembali deras. Saya mengingat baik-baik dalam hati; hari ini tidak akan saya lupakan seumur hidup.

Snapping that happy smile.
Priceless moment. Ekspresi bahagia, mau diangkut pake apapun, lewat jalan seburuk apapun; asal bareng kalian, semuanya lewat. Haha.
Diperjalanan menuju hilir sungai, kami beberapa kali berhenti di air terjun di sisian sungai. Pertama, di air terjun Mangkaring namanya. Air terjun indah bertingkat-tingkat rendah yang membuat betah dan tidak ingin pulang. Kami melewati makan siang di sana, berkeliling membentuk lingkaran di tepian alirannya, makan di atas bebatuan dengan baju basah kuyup dan hati yang riang. Another priceless moment. Selain ke air terjun Mangkaring, kami juga singgah di satu air terjun unik; namanya air terjun Teluk Wang Sakti atau lebih terkenal dengan Kolam Jodoh. Entah apa yang mitos yang berkembang di sana hingga dinamai demikian. Air terjun ini tidak begitu tinggi, dengan dua tingkatan aliran yang bisa dinaiki dari sisi-sisinya. Semua teman saya menceburkan diri, berusaha naik ke tingkatannya, merasakan sensasi dihujani air terjun langsung di tingkat pertama dan melompat ke bawah. Saya awalnya melongo, kali ini sangsi apakah saya berani melompat. Takut ketika sampai di bawah membentur sesuatu atau cidera. “Mau nyobain naik? Yuk, pasti bisa kok. Gapapa.”, kata seorang teman kala itu, menarik tangan saya dan meyakinkan. Dalam hati saya berpikir, why don’t I give it a try? Pengalaman seperti ini terlalu berharga untuk dilewatkan dengan takut. Jadilah saya menceburkan diri, naik ke sisian air terjun hingga ke tingkat pertama, menghela nafas, kemudian melompat ke bawah. Tingginya mungkin hanya sekitar dua meter, tapi esensinya luar biasa untuk saya yang bukan siapa-siapa ini. Sampai di bawah, saya mendapati diri baik-baik saja, disambut acungan jempol dan dikelilingi teman-teman yang siap me-rescue kalau-kalau saya panik. I’am totally blessed to have them all. Perjalanan ini memberikan saya begitu banyak pelajaran, pun pengalaman. Kami mungkin bukan team terbaik, juga mungkin tidak sepenuhnya saling menyukai satu sama lain. Tapi ada hangat, meski berbeda-beda. Ada keyakinan, meski kadang tidak saling percaya. Ada ikatan tidak tampak, yang menyatukan sekat. Menyemai rasa saling memiliki, kewajiban saling melindungi. Dari perjalanan ini pula saya mendapati; orang-orang terbaik tidak selalu datang dengan sapa ramah dan kepala se-ide, kadang mereka datang dengan segudang perbedaan yang bertentangan dengan hati, namun mampu mengubahnya menjadi saling menyempurnakan dengan toleransi.

Happy 1st Anniversary, Instravelmate Jambi. Semoga terus bertumbuh; membawa kami ke tempat-tempat terbaik, bertemu lebih banyak orang baik.

-Lanny